Kotagede Malam Jum'at Kliwon

4:15 PM
Foto ilustrasi
Blogkmp.net - Malam itu, jarum jam menunjukkan jam 10 malam, sisa air hujan yang turun sejak pagi hingga menjelang sore sudah meresap ke dalam tanah, sisanya menguap kembali menjadi awan yang akan turun sebagai hujan di tempat lain. 


Kotagede malam Jum'at Kliwon, malam yang bagi sebagian orang dianggap mistis, penuh misteri, sakral, dan sebagainya. Aroma wewangian khas dari asap dupa dan kemenyan tercium di sudut-sudut Kotagede, dari mana asalnya?

Malam itu, di salah satu malam Jum'at Kliwon, redaksi blogkmp.net melakukan penelusuran ke tempat yang menjadi sumber aroma mistis tersebut, Komplek Makam Panembahan Senopati yang berada di sebelah selatan Masjid Gedhe Mataram Kotagede.

Memasuki area Masjid Gedhe, terlihat sejumlah orang, entah pengunjung, atau warga setempat tampak duduk-duduk di beberapa sudut komplek. Beberapa terlihat sedang khusyu' Shalat di masjid, sebagian lagi larut dalam dzikir, ada juga yang tidur-tiduran, sebagian lainnya duduk-duduk sambil berbincang.

Bukan, bukan di sini sumber dari bau-bauan tersebut. Dari Masjid Gedhe kami melanjutkan penelusuran menuju ke Selirang. Memasuki gapura yang memisahkan antara area Masjid Gedhe dengan komplek makam, tampak lebih banyak orang berkumpul di sana. Beberapa terlihat duduk-duduk atau tertidur beralas tikar.

Lebih jauh ke dalam, lebih banyak lagi orang yang berkumpul di Bangsal Ler dan Bangsal Kidul di depan area Makam yang dibatasi oleh tembok dan gapura dengan pintu yang senantiasa tertutup kecuali jika ada peziarah yang hendak masuk.

Di sini terjawab sudah sumber dari bau-bauan dupa dan kemenyan tersebut. Tepat di depan tembok dan gapura yang menjadi sekat terakhir menuju areal makam, duduk beberapa orang dengan begitu tenang dan diam, dengan mulut yang komat-kamit merapal entah doa atau mantra, apa pun itu. Beberapa batang dupa sudah menyala menyisakan hampir setengah batang, menebarkan aroma wangi mistis yang membangunkan bulu kuduk bagi sebagian orang.

Tua, muda, pria, wanita, datang dari berbagai pelosok negeri Ngayogyakarta. Salah seorang peziarah yang berasal dari Dlingo mengaku cukup sering datang ke tempat ini untuk menenangkan diri. Sudah bukan rahasia lagi kalau orang-orang yang datang kemari membawa niat yang beragam.

Keinginan memperbaiki peruntungan rezeki, keringanan jodoh, atau melarikan diri dari segala permasalahan dunia dengan menyepi berharap memperoleh ketenangan bathin dari tempat ini.

Adalah hak semua orang melaksanakan apa yang mereka yakini. Namun berharap pada yang mati untuk dapat membantu memperbaiki hidup adalah sesuatu yang salah besar. Bisa jadi selama hidup mereka adalah orang yang terpandang, memiliki kedudukan, kekuasaan, tahta, kecerdasan, dan berbagai kelebihan lainnya, tapi bukankah semua itu tiada lagi artinya ketika yang tersisa dari mereka hanya seonggok jasad, tumpukan tulang belulang dan batu nisan?

Dengan khusyu' para peziarah ini berkomat-kamit, mereka sandarkan harapan dan cita-citanya pada si mati, berharap Tuhan mendengarkan pinta mereka melalui perantara si mati, atau malah berharap si mati berkenan memberikan pertolongan dan berkah pada mereka.

Wake Up! bukan yang hidup membutuhkan yang mati, jangan beratkan si mati dengan berbagai doa dan permohonan, karena sesungguhnya mereka di dalam sana sedang sibuk menghadapi malaikat kubur, menjawab pertanyaan-pertanyaan sang malaikat dengan tiada dusta.

Sejatinya mereka yang mati tidak lagi memiliki daya apa pun, tidak dapat memberi manfaat bagi yang hidup, tidak pula memberi madharat. Mereka yang lebih membutuhkan pertolongan dari yang hidup, melalui doa-doa agar mereka mendapat keringanan atau terhindar siksa kubur, agar dilapangkan kuburnya, diterima ruhnya di tempat terbaik di sisi Tuhan.

Ironis, ketika mereka membutuhkan pertolongan, rizki, dan berbagai harap lainnya justru bukan masjid yang dituju dimana masjid adalah tempat terbaik untuk berdoa, tempat yang dicintai oleh Allah sang Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Mendengar, dan Maha segalanya. Tidak perlu dupa, tidak perlu kemenyan, tidak perlu kembang tujuh rupa, Allah tidak membutuhkan itu semua, Allah tidak perlu disogok dengan benda-benda itu supaya mau mendengarkan doa hambanya yang datang dengan penuh keikhlasan. 

Kuburan atau makam adalah tempat terbaik untuk mengingat mati, supaya kita selalu sadar betapa hidup ini hanya sementara, tidak ada yang dapat menyelamatkan dan menolong kita di alam kubur apalagi akhirat selain amal baik yang kita buat selama hidup. Berdoa tetap kepada Allah sang Maha Pencipta, bukan kepada batu-batu nisan, bukan kepada tulang belulang atau jasad yang bahkan mengedipkan mata pun sudah tidak lagi mampu.

Mereka yang datang melakukan ritual di Komplek Makam Panembahan Senopati tersebut kebanyakan berasal dari luar Kotagede, dari pelosok-pelosok yang jauh dari Kotagede.

Bisakah Kotagede yang merupakan salah satu basis Muhammadiyah ini mencegah praktek-praktek kemusyrikan seperti itu? ini memang sebuah PR besar. Beberapa kali warga setempat melakukan sweeping, tetapi tetap saja mereka kembali lagi.

Berjalan ke area parkir di sebelah Timur Masjid Gedhe, tampak banyak pengunjung melakukan berbagai aktifitas, ngobrol, makan, minum, dan sebagainya. Pria, wanita, tua, muda, dengan berbagai bentuk dandanan, mulai berjilbab sampai wanita-wanita berpakaian aduhai bin aneh.

Fenomena musyrik seperti ini sudah berlaku turun temurun, membudaya. Masyarakat sepertinya memang tak berdaya menangkal hal seperti ini, di satu sisi banyaknya pengunjung yang datang dengan berbagai niatan tersebut memberikan manfaat tersendiri secara ekonomi bagi pedagang dan tukang parkir sekitar.

Ini adalah satu bagian dari episode panjang penelusuran redaksi blogkmp.net terhadap fenomena lelaku kejawen di Kotagede. Simak terus laporan redaksi yang lebih dalam selanjutnya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon