Pengibaran Bendera KMP Di Puncak Merbabu

11:17 AM
Bendera KMP gagah berkibar di atas puncak triangulasi Merbabu (3142 mdpl)
Delapan orang pendaki KMP berhasil mengibarkan bendera kebesaran Komariyah Masjid Perak di atas puncak Gunung Merbabu (3142 mdpl) pada hari Ahad 25 Agustus 2013 jam 09.00 pagi. Dan peristiwa ini kemungkinan menjadikan KMP sebagai organisasi remaja masjid dan pengajian anak-anak pertama di Kotagede yang mengibarkan bendera di puncak gunung, gunung Merbabu khususnya.

Beberapa hari sebelumnya, persiapan tim sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari, mulai dari listing barang-barang yang harus dibawa, sampai penyewaan properti pendakian seperti tas carier, matras, sleeping bag, dan tenda.

Pendakian ini merupakan pendakian perdana bagi sebagian besar anggota tim, dari sepuluh orang peserta pendakian, enam orang diantaranya sama sekali belum pernah mendaki gunung, khususnya Merbabu, dan sisanya sudah pernah, namun hanya dua yang sudah pernah sampai ke puncak.

Sabtu, 24 Agustus 2013

foto bersama di depan ndalem Komariyahan sebelum berangkat
Bermodalkan tekad dan semangat, rombongan berangkat dari Masjid Perak pada hari Sabtu 24 Agustus 2013 jam 11.40 mundur dari rencana sebelumnya berangkat jam 09.00 pagi karena menunggu salah satu anggota rombongan yang telat bangun.

Dengan mengendarai 5 kuda besi berboncengan, rombongan berangkat berpanas-panas ria dari Kotagede menuju Kecamatan Selo, Boyolali, karena pendakian akan mengambil jalur Selo, sebuah Kecamatan yang terletak di tengah-tengah antara gunung Merapi dan Merbabu.

Sekitar pukul 15.00 rombongan tiba di basecamp pendakian Selo, di sini tim beristirahat sejenak untuk makan siang, Shalat, dan packing ulang barang-barang bawaan. 

Gapura masuk jalur pendakian Merbabu
Setelah melakukan registrasi dan berdoa, tepat pukul 17.00 sore perjalanan dimulai dengan melangkah dari basecamp. Mengingat kondisi fisik anggota tim yang bermacam-macam, maka perjalanan dilakukan dengan santai dengan diselingi beberapa kali istirahat untuk memulihkan kondisi fisik.

Kerjasama tim dan saling memotivasi antara satu sama lain merupakan kunci yang harus selalu dipegang teguh oleh seluruh anggota tim supaya misi dapat dijalankan dengan sukses.

Setelah berjalan selama kurang lebih 1,5 jam melalui jalur yang relatif landai, tim tiba di pos 1 dok malang, di sini semua beristirahat sejenak sambil mengatur nafas, suasana sudah gelap karena matahari sudah terbenam.

Sudah mulai terdengar nada-nada menyerah dari salah seorang anggota tim yang merasa kelelahan akibat jalur dan beratnya beban barang bawaan, namun karena motivasi dari anggota yang lain maka perjalanan tetap dilanjutkan sambil sesekali beristirahat.

Perjalanan selanjutnya menuju pos 2 ditempuh melewati jalur dengan level yang lebih berat dari pada sebelumnya, tenaga dan konsentrasi mulai dituntut lebih ekstra mengingat jalur yang sempit dan berada di tepi jurang serta suasana yang makin gelap. Sesekali kami berpapasan dengan rombongan lain yang baru turun.

Setelah kurang lebih 1,5-2 jam perjalanan santai, tim tiba di post 2 (Pandean), di sini sudah ada 2 tenda berdiri, kondisi pos 2 relatif sempit berada di tengah rimbun pohon-pohon tinggi yang cukup lebat, suasana pos 2 agak sedikit mistis (jawa: singup), dan menurut cerita-cerita dari pendaki-pendaki yang pernah ke Merbabu memang ada 'sesuatu' di pos ini, wallahua'lam. Tapi Alhamdulillah kami tidak menemukan sesuatu yang aneh-aneh.

Cukup beristirahat sebentar di pos 2, perjalanan kembali dilanjutkan menuju pos 3. Sedikit demi sedikit mulai terlihat perubahan struktur vegetasi di jalur menuju pos 3, pohon-pohon tinggi mulai berkurang, jalur mulai terbuka sedikit demi sedikit.

Di tengah perjalanan kami sempat melihat fenomena munculnya bulan purnama dengan warna kemerahan di sebelah timur, warna bulan persis dengan logo KMP, entah mengapa tim seperti mendapat suntikan semangat baru dan merasa yakin bahwa kami semua akan sampai di puncak, Allah pun tampak memberkahi perjalanan kami dengan cuaca yang cerah malam itu tanpa kabut.

Melalui rute yang makin terjal dan panjang serta dinginnya angin yang makin menusuk sampai ke tulang ternyata tanda-tanda pos 3 masih belum tampak. Jalur pendakian yang ditempuh semakin licin dan terjal. Sesekali kami berhenti untuk sekedar mengatur nafas sambil menikmati suasana malam yang dingin dibawah siraman cahaya bulan dan bintang yang tampak sangat cerah, sementara di arah selatan kami samar-samar mulai tampak gunung Merapi yang gagah menjulang.

Setelah menempuh sekitar 1,5 jam perjalanan kami menemukan area yang luas untuk beristirahat, kami berpapasan dengan rombongan pendaki lain yang juga sedang beristirahat, area ini cukup luas dan terbuka untuk mendirikan beberapa tenda, tapi sama sekali kami tidak menemukan papan nama pos 3. Dan bisa jadi di sinilah pos 3 sebenarnya, karena sampai akhir kami tetap tidak menemukan papan pos 3 di tempat-tempat selanjutnya.

Menghindari dampak buruk akibat kedinginan dan terlalu lama berhenti, kami melanjutkan perjalanan menuju sabana 1. Menurut petunjuk salah seorang pendaki lain yang juga beristirahat di lapangan tersebut sabana terletak di balik bukit di depan kami. Tidak terlalu tinggi memang kelihatannya, tapi kami tak akan dapat melupakan perjalanan yang satu ini.

Cukup beristirahat dan menghindari kedinginan, perjalanan kami lanjutkan, kembali kami harus menanjak, jalur yang kami tempuh ini memiliki level kesulitan yang lebih tinggi lagi dari pada sebelumnya, kami harus sangat berhati-hati dalam melangkah, selain licin, jalur ini juga sangat terjal dengan sudut kemiringan yang relatif tinggi.

Ternyata bukit yang tampak tidak terlalu tinggi tersebut tidak menjamin bahwa kami akan dapat melaluinya dengan cepat, justru di sinilah tenaga dan mental kami benar-benar diuji, kami berhadapan dengan alam yang tangguh, sebuah pelajaran bahwa sekuat apa pun manusia, tetap tidak ada apa-apanya bila dihadapkan dengan kekuatan alam, dan manusia sama sekali tidak memiliki hak untuk sombong.

Beberapa kali kami harus beristirahat memulihkan tenaga, sempat kami menemukan prasasti in memoriam sebagai tanda bahwa pernah ada pendaki yang wafat di tempat itu. Jalur menuju puncak bukit memiliki begitu banyak percabangan, namun semuanya sama-sama menuju satu titik, hanya saja tipikal tracknya yang bisa berbeda.

Malam makin larut namun tanda-tanda puncak masih belum terlihat, sempat ada yang berpikir untuk tidur sekenanya saja dengan sleeping bag di antara rimbunan semak rumput dan batang-batang pohon edelweis, namun karena sudah kepalang tanggung akhirnya perjalanan ngesot tetap dilanjutkan.

Akhirnya sekitar pukul 23.15 kita tiba di pos 4 sabana 1, terlihat sudah ada beberapa tenda yang berdiri di tepi-tepi tanah terbuka yang luas ini. Di sini suhu udara terasa lebih dingin dengan angin yang makin kencang berhembus, apalagi karena tidak banyak pohon besar maka tidak ada penghalang antara angin dengan tubuh dan tenda-tenda kami.

Tak menunggu lama kita langsung bergegas mendirikan tenda, sempat mengalami kesulitan karena tangan kami sudah seperti mati rasa kedinginan. Sebagian yang lain bertugas menyiapkan minuman hangat untuk mengatasi hawa dingin.

Pukul 00.30 perjalanan kami akhiri untuk beristirahat tidur ditemani terpaan angin kencang di luar tenda setelah makan malam dan shalat. Dan rencananya kami akan melanjutkan summit ke puncak pada keesokan harinya.

Ahad, 25 Agustus 2013

Jam menunjukkan pukul 04.30 pagi, anggota tim pendaki KMP satu persatu mulai bangun untuk shalat shubuh. Suhu udara di luar masih tetap dingin meskipun tidak sehebat semalam. Sambil menunggu sunrise dan teman-teman lain yang belum bangun, kami mencoba menghangatkan diri dengan membuat minuman hangat.

Berfoto dengan latar belakang sunrise dan gunung Lawu


Ditemani segelas wedang jahe hangat kami menikmati pemandangan sunrise di sebelah timur, tampak awan masih menyelimuti sebagian badan gunung Lawu dari kejauhan. Subhanallah. Yang tidak ketinggalan tentu saja sedikit berfoto dengan latar belakang sunrise dan gunung Lawu.

Summit Attack

Pukul 05.30, setelah sedikit berembug, akhirnya kami memutuskan untuk segera summit sebelum kesiangan, menghindari panas sengatan matahari karena medan yang kami tempuh selanjutnya adalah beberapa bukit yang dipenuhi rerumputan dan minim pohon-pohon rindang sehingga tidak ada yang melindungi dari sengatan matahari.

Camp di Sabana 1 (Pos 4), puncak sudah tampak di depan mata
Pukul 06.00 kami melakukan persiapan untuk summit attack, tenda dan barang bawaan kami tinggal, kecuali beberapa bungkus roti, snack dan air mineral untuk sarapan di perjalanan maupun di puncak nanti.

Dari 10 orang anggota tim, dua diantaranya memilih tinggal di tenda, jadi hanya delapan sisanya saja yang melanjutkan perjalanan ke puncak.

Setelah berdoa, perjalanan menuju puncak kenteng songo dan triangulasi dimulai, setidaknya untuk mencapai puncak kami harus melalui dua buah bukit yang banyak ditumbuhi pohon edelweis dengan bunganya yang khas sedang bermekaran.

Setelah melewati satu bukit kami tiba di sabana 2, di sini terdapat rimbunan pohon edelweis tua yang tumbuh tinggi, dan di depan tampak bukit yang harus kami lalui lagi.

Perjalanan menuju puncak Merbabu


Sepanjang perjalanan ke puncak kami ditemani pemandangan gunung Merapi di sebelah selatan yang tampak sangat cerah dan bersih tanpa kabut sama sekali.

Setelah satu jam lebih kami naik-turun bukit, akhirnya kami tiba di tanjakan terakhir yang langsung menuju puncak triangulasi. Tanjakan yang harus kami lalui cukup curam, dengan medan jalan tanah yang licin, harus berhati-hati agar tidak terpeleset sampai ke bawah.

Puncak Triangulasi (3142 mdpl)

Rombongan kami terbagi menjadi dua, rombongan pertama sejumlah lima orang jalan agak cepat di depan, sedangkan tiga sisanya termasuk salah satunya pembawa logistik berada di belakang sebagai penjaring.

Pukul 08.00 rombongan pertama tiba di puncak triangulasi, disusul tim penjaring 20 menit kemudian. Setiba di puncak kami segera membuka perbekalan untuk sarapan, beberapa potong roti, biskuit, dan kacang jadi menu sarapan pagi ini sambil bergantian kami berfoto dengan latar belakang gunung Merapi maupun Sindoro dan Sumbing.

Puncak triangulasi


Puncak Kenteng Songo

Kenteng Songo
Ada ungkapan "belum sampai puncak Merbabu kalau belum sampai Kenteng Songo", maka setelah menghabiskan bekal makanan dan berfoto di triangulasi, kami melanjutkan ke puncak Kenteng Songo yang hanya beberapa meter di sebelah timur puncak triangulasi.

Di puncak Kenteng Songo kita bisa melihat tatanan 4 batu berlubang (kenteng) yang konon katanya merupakan sarana ritual masyarakat lokal. Dinamakan Kenteng Songo karena menurut mitos di sini sebenarnya ada sembilan kenteng (batu berlubang), namun hanya 4 atau 5 saja yang dapat dilihat dengan mata awam. wallahua'lam.

Tidak lupa di sini kami berfoto bersama dengan membawa bendera kebesaran Komariyah Masjid Perak sebagai bukti bahwa kami sudah berhasil mencapai puncak gunung Merbabu.

Berfoto di Kenteng Songo


Tidak berapa lama di puncak dan setelah puas berfoto, kami pun memutuskan kembali ke tenda di sabana 1 untuk persiapan turun kembali ke basecamp.

Sambil beristirahat kami menghabiskan bekal makanan yang tersisa, selain untuk menambah tenaga juga untuk meringankan beban yang harus kami bawa turun, dan tidak lupa semua sampah yang kami hasilkan juga ikut dibawa turun nantinya.

Pukul 13.10 setelah packing dan membongkar tenda kami segera turun ke basecamp. Perjalanan turun dari sabana ke lapangan bukit teletubbies kami lalui dengan rute yang berbeda, kami mengambil jalan pintas yang sangat curam dengan sudut kemiringan hampir 90 derajat dan licin, kami harus berhati-hati dan mencari pegangan agar tidak tergelincir dan terluka.

Perjalanan turun ke basecamp ditempuh dalam waktu 3 jam perjalanan sesuai dengan target. Di basecamp kami beristirahat sejenak menikmati soto ayam dan teh anget, beberapa diantaranya bersih-bersih dan bergantian kami shalat.

Sayonara Merbabu

Setelah packing ulang, pukul 17.20 kami mulai meninggalkan basecamp untuk kembali ke Kotagede. Meskipun dengan rasa lelah dan mata terkantuk-kantuk di perjalanan, syukur Alhamdulillah perjalanan pulang kami lancar tanpa kendala berarti.

Perjalanan pendakian ini tentunya akan menjadi pengalaman yang tidak akan bisa dilupakan oleh seluruh anggota tim, segala jerih payah dan perjuangan keras serta tekad yang kuat telah membawa kami untuk mengenal lebih dekat, melihat dan menyentuh secara nyata ciptaan Allah yang luar biasa, hanya rasa syukur dan kekaguman yang muncul di hati kami, betapa kecil kami dan betapa sedikit segala yang pernah kami lihat, sedangkan di luar sana Allah sudah menyiapkan begitu banyak hal untuk dinikmati dan dijaga sebagai wujud syukur kita.

Tim pendaki KMP tiba kembali di Kotagede sekitar pukul 20.30 malam.

Tim Pendaki
Wawan, Roni, Fuad, Adin, Rio, Ata, Fahmi, Abe, Aziz, Hengki

Tim Summit
 Wawan, Roni, Fuad, Adin, Rio, Ata, Abe, Hengki

Jaga Tenda
Aziz, Fahmi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon