Prof. Dr. Muh. Chirzin : Islam Tidak Anti Budaya

10:18 AM
Dialog Budaya PCM Kotagede
Dr. Kharis Zubair memberi penjelasan pembuka
Islam sering dipandang salah dan dianggap anti terhadap seni dan budaya, terutama bila terjadi benturan antara Islam dengan budaya yang menyenggol sisi aqidah dan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai Islam. Sebenarnya Islam tidak anti terhadap budaya, tetapi justru Islam meluruskan segala sesuatu yang tidak benar dari budaya yang sudah ada di masyarakat. 

Demikian inti penjelasan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Muhammad Chirzin di depan peserta dialog budaya yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kotagede di Masjid Perak, Senin (08/04/2013).


Turut hadir sebagai narasumber mewakili pihak budayawan, Dr. Kharis Zubair yang menjabat Ketua Pengembangan Budaya Yogyakarta dan dosen UGM.

Dalam pembukaannya, Dr. Kharis Zubair menyampaikan pentingnya kita memandang sesuatu dari berbagai sudut pandang sebelum memvonis haram dan salah pendapat dari orang yang berbeda sudut pandang dengan kita.

Diskusi yang dimulai pada pukul 20.00 WIB dan dihadiri oleh pengurus Muhammadiyah dan 'Aisyiyah tingkat cabang maupun ranting serta Angkatan Muda Muhammadiyah di Kotagede ini fokus pada permasalahan salah satu atraksi budaya Kotagede 'Nawu Sendhang Selirang' yang sejak 5 (lima) tahun terakhir rutin diadakan di Kotagede. 

Berbagai pro dan kontra sudah muncul sejak awal event tersebut diselenggarakan. Dari sudut pandang praktisi budaya Kotagede, kegiatan ini menarik untuk dipertahankan karena selain memberikan tontonan dan hiburan kepada masyarakat Kotagede juga mampu memberikan sumbangsih secara ekonomi kepada masyarakat.

Lain halnya dari sudut pandang Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kotagede yang menganggap kegiatan yang berpotensi membangkitkan suasana mistis, sakral dan syirik ini patut untuk dihapuskan, selain juga kegiatan tersebut tidak memiliki nilai historis yang kuat dan terkesan mengada-adakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada di Kotagede.

Sebagian besar pendapat yang disampaikan oleh peserta diskusi menyatakan perlunya koreksi terhadap kegiatan tersebut dan perlunya kita menempatkan diri dalam memandang hal tersebut, apakah kita sebagai orang Islam atau sebagai orang kejawen.

Secara umum tidak ada masalah sebatas kegiatan tersebut sebagai tontonan, kegiatan budaya dan kesenian, namun ketika sudah menyenggol sisi aqidah dan berpotensi mencederai keimanan yang justru berusaha dipertahankan dan dimurnikan oleh para pendahulu Muhammadiyah Kotagede maka perlu adanya koreksi dan perbaikan.

Acara ini ditutup pada pukul 22.45 WIB dengan kesimpulan PCM Kotagede akan mengadakan pertemuan dengan panitia penyelenggara untuk mengetahui runtutan prosesi yang akan diadakan atau memberi catatan kepada panitia mengenai hal-hal yang tidak boleh dilakukan atau perlu perhatian khusus.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon