Refleksi Pandemi COVID19

12:50 PM Add Comment
blogkmp.net - Sudah hampir setahun pandemi COVID-19 masih berlangsung. Korban banyak yang berjatuhan, belum lagi banyak para pahlawan kesehatan gugur dan mati syahid di garda terakhir pertempuran COVID-19. Bahkan sebagian dari kita menderita karena dampak yang ditimbulkan dari pandemi yang makin lama makin memprihatinkan, terutama di sektor ekonomi, sektor pendidikan, dan sektor ketenaga kerjaan.

Di sektor yang lain seperti keagamaan pun juga tidak luput dari COVID-19, seperti rumah ibadah ditutup, kegiatan peribadahan serta kegiatan keagamaan yang lain ditiadakan. Dampaknya justru lebih memprihatinkan terlebih dalam soal agama. Pengajian off, ngaji Al-Qur'an bersama juga off, kajian kitab off, bahkan kajian khusus akhwat off. Semua kegiatan tatap muka di majelis taklim diganti dengan majelis cloud meetings. Bagi sebagian dari kita yang bisa membeli kuota besar, tidak masalah mengikuti kajian atau pengajian bersifat virtual baik melalui Zoom, Google Meet, atau via Skype dan Microsoft Team. Terus, bagaimana dengan yang tidak bisa membeli kuota?

Ini yang menjadi perhatian bersama terlebih kepada saudara-saudara kita yang kesulitan membeli kuota untuk mengikuti pengajian bisa dengan media radio atau televisi.

Stasiun Radio

Di Yogyakarta sendiri, sebagian besar stasiun radio mempunyai program keislaman. Ada yang bersifat searah, ada yang bersifat dua arah (interaktif).

1. Pengajian Searah (Noninteraktif)

Untuk acara pengajian satu ini, stasiun radio hanya memutar rekaman tausyiyah asatidz dan asatidzah yang dikenal luas seperti:
  • K. H. Anwar Zahid
  • K. H. Zainuddin M. Z.
  • K. H. Abdullah Gimnastiar (AA Gym)
  • Ustadz Adi Hidayat, LC. MA. (UAH)
  • Ustadz Abdul Shomad, LC. MA. (UAS)
  • Ustadz Yusuf Mansur (UYM)
  • Masih banyak lagi

2. Pengajian yang bersifat Dua Arah (interaktif)

Ada sebagian stasiun radio yang memiliki acara pengajian interaktif. Asatidz dan asatidzah yang menjadi narasumber dalam acara tersebut adalah yang dikenal oleh masyarakat lokal. Biasanya asatidz atau asatidzah ini dari ormas islam salah satunya Muhammadiyah, atau lembaga-lembaga dakwah lainnya yang bekerjasama dengan stasiun-stasiun radio tersebut. Diantaranya:
  • Dompet Duafa
  • Rumah Zakat
  • Dhaarut Tauhiid
  • Dewan Masjid Indonesia
  • KEMENAG
  • Masih banyak lagi

Pengajian di Stasiun televisi

Untuk di televisi, setelah selesai Sholat Shubuh, banyak acara-acara televisi yang pengisinya adalah asatidz dan asatidzah yang kredibel
seperti:
  • Ustadzah Oki Setiana Dewi (OSD)
  • Mamah Dede
  • Ustadz Wijayanto
  • Ustadz Danu
Bila tidak sempat mendengarkan radio atau tidak mengaksikan acara di televisi, membaca buku atau kitab yang bisa menjadi obat setelah hampir setahun pandemi melanda. Atau dengan berzikir (mengingat nama Allah). Dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram. Iman kuat, imun kuat, dampaknya adalah aman dari COVID-19 baik segi lahiriyah dan batiniyah.

Hikmah adanya COVID-19 selama hampir setahun ini diantaranya:
  1. Kita bisa bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya
  2. Selalu ingat Allah karena kita hamba yang lemah
  3. Terhindar dari sifat sombong lagi membanggakan diri, merasa sempurna , bahkan meremehkan sesamanya
  4. Interaksi dengan keluarga lebih intensif
  5. Muhasabah diri
Semoga dengan adanya pandemi seperti sekarang ini, tidak membuat kita frustasi, stres berlebihan, dan mengeluh, tetapi semakin dekat dengan Allah untuk selalu taat dan berusaha menjauhi larangan-Nya. Demikian juga, berusaha ittiba' Sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Intinya Back to Al-Qur'an, and Sunnah!
Wallahu a'lam bishshawwaab.

Yogyakarta, Sabtu Wage 19 Desember 2020 M/4 Jumadil Awwal 1442 Hijriyah.

=====================================
Artikel ini ditulis oleh : Prima Agus Setiyawan

Bagi teman-teman yang ingin berbagi tulisan untuk dipublikasikan di blogkmp.net, silakan kirim naskah tulisan ke admin blogkmp.net boleh dalam format word atau pdf.
Tulisan yang teman-teman kirim akan kami review dan edit seperlunya sebatas merapikan text.