#OmToleranOm - Fatwa MUI Tidak Toleran (?)

11:41 AM



blogkmp.net - Baru-baru ini Majelis Ulama Indonesia (MUI)  menerbitkan fatwa Nomor 56 Tahun 2016 tentang Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan Non-Muslim. Fatwa ini diterbitkan sebagai jawaban atas fenomena yang terjadi di Indonesia dalam menyambut Natal. Bagaimanakah hukum mengenakan atribut agama lain bagi seorang muslim.


Fatwa MUI ini menuai respon beragam dari masyarakat. Sebagian menerima fatwa tersebut dan sebagian tidak menerima bahkan menganggap Fatwa MUI memancing kegaduhan dan merusak spirit toleransi di Indonesia.

Benarkah Fatwa MUI tidak toleran?

Perlu ditekankan dan diperhatikan bahwa Fatwa MUI dikeluarkan dan berlaku khusus untuk umat Islam saja, jadi sama sekali tidak ada kewajiban umat agama lain untuk melaksanakan.

Dalam Fatwa yang dikeluarkan oleh MUI Nomor 56 Tahun 2016 tersebut ditegaskan bahwa :
1. Menggunakan atribut keagamaan non muslim adalah Haram
2. Mengajak dan atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non muslim adalah Haram

Sedangkan yang dimaksud dengan atribut keagamaan dalam Fatwa tersebut adalah sesuatu yang dipakai dan digunakan sebagai identitas, ciri khas atau tanda tertentu dari suatu agama dan/atau  umat beragama tertentu, baik terkait dengan keyakinan, ritual ibadah, maupun tradisi dari agama tertentu.

Lebih jelas silahkan klik  : Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan Non-Muslim

Fatwa MUI ini dikeluarkan karena ada fenomena penggunaan atribut keagamaan non-muslim, seperti topi santa ketika menjelang hari Natal oleh karyawan muslim karena perintah dan kebijakan perusahaan yang mengharuskan melakukan hal tersebut.

Melalui fatwa tersebut ulama (MUI) berusaha mempertegas bahwa bagi seorang muslim adalah Haram hukumnya menggunakan atribut yang identik dengan perayaan agama lain, baik itu Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan sebagainya.

Juga melarang pemilik usaha memaksa karyawan muslim mengenakan atribut tersebut, terlebih dengan ancaman sanksi jika tidak mau melakukan.

Dengan demikian Fatwa ini sama sekali tidak mencederai semangat toleransi antar umat beragama di Indonesia, justru sebaliknya Fatwa MUI ini mempertegas makna toleransi yaitu harus saling menghormati keyakinan masing-masing dan tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

Toleransi Antar Umat Beragama

Toleransi antar umat beragama dapat dimaknai saling menghormati keyakinan setiap umat beragama dan tidak boleh memaksakan kehendak dan keyakinan kepada umat agama lain.

Termasuk harus menghormati keyakinan umat Islam bahwa dalam bertoleransi umat Islam memiliki batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Batasan-batasan tersebut sesuai dengan ajaran agama Islam.

Sebagai contoh orang yang merayakan Natal harus menghormati orang yang tidak merayakan Natal, sebaliknya orang yang tidak merayakan Natal harus menghormati yang merayakan Natal.

Orang yang berpuasa harus menghormati hak orang yang tidak berpuasa, sebagaimana sebaliknya, orang yang tidak berpuasa harus menghormati hak orang yang berpuasa. Semua pihak tidak boleh saling mengganggu.

Kita tidak boleh memaksakan sikap toleransi secara tidak toleran, seperti menabrak hal-hal yang diyakini bertentangan dengan batasan-batasan toleransi dalam keyakinan umat Islam.

Fatwa Dan Aplikasinya

Ulama adalah orang-orang berilmu yang menjadi pewaris para Nabi dalam menjaga kemurnian agama Islam. Kewajiban dan tanggung jawab seorang Ulama untuk menjaga umat Islam melalui ilmu yang mereka miliki.

Setiap Fatwa tentu sudah dikaji mendalam berdasarkan sumber-sumber hukum yang diambil dari Al Qur'an dan Hadits.

Soal apakah Fatwa tersebut kemudian diterima atau diabaikan oleh umat sudah berlepas dari beban Ulama tersebut. Tugas mereka adalah menyampaikan yang Haq seusai dengan Al Qur'an dan Hadits.

Terkadang umat tidak dapat menerima dan memahami Fatwa yang dikeluarkan oleh para ulama, hal ini wajar karena ilmu kita tidak sebanding dengan para ulama. Standard kebenaran, baik dan buruk yang kita pegang berbeda dengan standard dari Allah, karena ketidaktahuan dan nafsu kita.

Fatwa Ulama yang satu dengan yang lain bisa berbeda, selama apa yang disampaikan oleh para ulama tidak bertentangan dengan syari'at maka kita wajib ikuti, bukan malah menghujat dan mencemooh para ulama. Karena tanpa peran ulama kita tidak bisa mengenal Islam sebagai jalan keselamatan di dunia dan akhirat.

Jadi, yuk yang muslim kita belajar toleransi sesuai dengan cara Islam yang memberi hak seluas-luasnya kepada umat agama lain untuk beribadah sesuai keyakinannya.

Dan untuk teman-teman non muslim, yuk belajar toleransi, hargai dan hormati bahwa dalam keyakinan kami, kami punya aturan dan batasan-batasan dalam bertoleransi.

Mungkin batasan-batasan kita berbeda, apa yang diperbolehkan di agamamu belum tentu dibolehkan di agama kami, tapi ini lah keyakinan kami, tidak usah ditabrak-tabrakkan dan saling memaksa.

#OmToleranOm #IslamPastiToleran

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon