Pelajaran Dari Kisah Mujahid Yang Murtad

9:34 AM
blogkmp.net - Pada suatu masa, disebutkan pada tahun 270 H, tengah terjadi peperangan dimana pasukan muslim mengepung salah satu perkampungan milik Romawi.

Dalam pertempuran yang berlangsung sengit tersebut terdapat seorang pemuda mujahid yang ia juga seorang hafidz atau penghafal Al Qur'an. Pemuda itu bernama Abdullah bin Abdurrahim.

Dengan cekatan Abdullah bin Abdurrahim mengayunkan pedangnya menebas tubuh-tubuh tentara Romawi dan mengirim mereka pada kematian.

Atas izin Allah SWT, pasukan muslim berhasil memukul pasukan Romawi dan mengepung benteng Romawi.

Hingga suatu ketika Abdullah bin Abdurrahman melihat seorang wanita Romawi yang wajah cantiknya mampu memikat hati sang pemuda mujahid sekaligus hafidz ini.

Kecantikan sang wanita Romawi membutakan mata Abdullah bin Abdurrahman. Mata, hati, dan pikirannya sudah terbutakan oleh cinta dan nafsu.

Begitu kuatnya keinginan hati Abdullah bin Abdurrahman untuk memiliki wanita Romawi tersebut kemudian mendorongnya untuk menulis surat pada wanita tersebut, yang kurang lebih isinya :

"Bagaimana caranya supaya aku bisa sampai ke pangkuanmu?"

Mendapat surat dari Abdullah bin Abdurrahim, wanita tersebut kemudian memberi balasan yang berbunyi :

"Kamu harus masuk agama Nashrani dulu, baru kau bisa menemuiku"

Mendapat jawaban seperti itu kemudian Abdullah bin Abdurrahman menerima syarat dari wanita tersebut. Ia sudah buta, cinta dan syahwat menguasai hatinya. Ia tinggalkan pasukannya, kemudian masuk ke dalam benteng dan menjadi seorang Nashrani lalu menikahi wanita Romawi tersebut.

Sontak hal ini menghancurkan hati pasukan Muslim yang melihat peristiwa tersebut.

Bagaimana bisa seorang pemuda yang hari-harinya dihiasi dengan Al Qur'an, yang iman dan amalan sholehnya tak diragukan lagi seperti Abdullah bin Abdurrahim bisa meninggalkan agamanya. Bahkan ketika pedangnya masih belum kering dari darah tentara Romawi yang ia bunuh.

Beberapa waktu kemudian ketika kaum muslimin melintas di hadapannya, mereka bertanya, "Wahai Ibnu Abdirrahman, apa yang dilakukan oleh AlQur'an, kitabmu?"

"Wahai Ibnu Abdirrahman, apa yang telah dilakukan ilmumu?"

"Wahai Ibnu Abdirrahman, apa yang telah dilakukan shalat, puasa, dan jihadmu?"

Maka dia menjawab, "adapun Al Qur'an, sungguh saya telah dijadikan lupa padanya, dan hanya dua ayat saja yang masih teringat hingga sekarang. Seakan-akan Allah membuat saya tetap mengingat keduanya. Yaitu firman Allah Ta'ala,

 "Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)." (QS. Al Hijr: 2-3)

Dua ayat tersebut seolah menjadi peringatan keras dari Allah kepada Abdullah bin Abdurrahman namun hatinya yang telah tertutupi hawa nafsu tersebut tak mampu lagi menerima hidayah dari Allah SWT. Na'udzubillahmindzalik

Kemudian ia berkata, "sesungguhnya saya telah memiliki anak dan harta yang melimpah ruah bersama mereka!"

Maksudnya ia tidak dapat lagi kembali ke pangkuan Islam dan meninggalkan wanita yang ia cintai beserta harta dan anak-anak mereka.

Begitulah akhir hidup Abdullah bin Abdurrahim, seorang mantan mujahid yang sholeh dan pemberani, seorang hafidz atau penghafal Qur'an yang iman dan ilmunya tidak diragukan lagi, akhirnya menemui ajalnya dalam keadaan kafir, mendapat kematian Su'ul Khotimah. Tenggelam dalam kerugian yang nyata.

Hikmah

Dari kisah tersebut dapat kita ambil pelajaran yang sangat berharga, dimana tak seorang pun yang mendapat jaminan terbebas dari su'ul khotimah.

Seorang pemuda, mantan mujahid, penghafal Qur'an, yang tingkat keimanannya tak diragukan bahkan sulit bisa kita samai ini pun tidak lolos dari su'ul khotimah, apalagi kita?

Amalan sholeh unggulan seperti apa yang sudah kita perbuat dan bisa kita jadikan pegangan penyelamat hidup kita di dunia dan akhirat? sudahkah ada?

Pelajaran berharga berikutnya ialah bahwa hidayah benar-benar merupakan hak Allah yang tidak dapat diganggu gugat. Jika Allah menghendaki hidayah masuk ke hati seseorang, maka tak ada yang bisa menghalangi datangnya, sebaliknya jika Allah hendak mencabut hidayah dari seseorang, maka tak ada yang sanggup menghalangi pula.

Sangat mudah bagi Allah untuk membolak-balikkan hati manusia.

Seorang yang kualitas imannya seperti Abdullah bin Abdurrahim saja bisa tergelincir ke dalam kekafiran karena godaan wanita (cinta), maka jangan heran jika banyak disekitar kita orang yang mengalami hal serupa.

Yang dapat kita lakukan adalah berdoa supaya Allah SWT senantiasa melindungi kita, serta menetapkan hati kita supaya tetap Istiqamah berada dalam Islam sampai akhir hayat.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon