Gawat! Remaja Masjid Kotagede Hampir Punah

9:06 AM
blogkmp.net - Sekelompok remaja sudah siap sejak sore, bergotong-royong di dapur membuat menu jaburan ternikmat. Sementara itu anak-anak sudah siap dan dengan cerah ceria mengikuti kegiatan berbuka di Masjid atau langgarnya.

Selepas berbuka kegiatan masih berlanjut menunggu Isya' dan shalat tarawih berjama'ah yang akan dilanjutkan dengan berbagai kegiatan permainan, mengaji, atau kegiatan seru lainnya.

Semarak kegiatan anak dan remaja seperti ini turut memberi warna dan membangkitkan suasana tersendiri di Kotagede. Suasana yang selalu ngangenin seperti ini bisa dijumpai selama sebulan penuh Ramadhan.

Namun bagai debu tersapu angin, ketika bulan Ramadhan usai, geliat organisasi remaja masjid dan pengajian anak-anak yang tadinya meramaikan tiap sudut Kotagede mendadak hilang, hanya sedikit diantaranya yang mampu bertahan dan tetap menjaga apinya tetap menyala sampai Ramadhan berikutnya.

Sangat kontras memang, di bulan Ramadhan hampir semua masjid dan langgar meriah dengan kegiatan jama'ah termasuk pengajian anak-anaknya. Namun ketika Ramadhan usai tiba-tiba sebagian besar hilang entah kemana.

Redupnya kegiatan remaja masjid di luar bulan Ramadhan bukan tanpa sebab. Ada banyak faktor yang menjadi pemicu hal tersebut seperti yang diuraikan oleh beberapa narasumber blogkmp. Diantaranya adalah :

Rendahnya Kepedulian Remaja Dalam Menggerakkan Organisasi Remaja Masjid Dan Pengajian Anak

Remaja masjid yang semestinya menjadi motor penggerak utama justru memiliki tingkat kepedulian yang rendah terhadap keberlangsungan kegiatan remaja masjid atau pengajian anak di sekitarnya di luar bulan Ramadhan.

Hanggar, Ketua Umum Forum Komunikasi Pengajian Anak-Anak Kotagede menjelaskan, Fokopa telah melakukan pengamatan melalui beberapa kali kegiatan silaturahmi ke pengajian anak dan remaja di Kotagede.

Hasilnya banyak ditemukan gejala kurangnya tingkat kepedulian remaja terhadap organisasi remaja masjidnya sendiri. Di salah satu masjid tampak remaja masjidnya aktif, sementara kegiatan anak-anak sepi. Namun di masjid yang lain kegiatan TPA untuk anak berjalan dengan bimbingan 3 pengasuh namun kegiatan remaja masjidnya yang justru sepi.

“Berangkat dari hal itu kita bisa melihat kepedulian dan kemauan yang ada pada remaja masjid sekarang teralihkan (dengan kesibukan masing-masing). Akan tetapi di sisi lain anak-anak mempunyai semangat yang tinggi untuk terus berkegiatan di Masjid.”

Selain rendahnya kepedulian, juga rendahnya rasa memiliki di kalangan remaja terhadap organisasi remaja masjidnya.

"Kurangnya rasa sosial dengan masyarakat dan kurangnya rasa memiliki serta ingin menghidup-hidupi pengajian atau masjid." ujar Roni (Ketua KMP).

Kegiatan menghidupi remaja masjid atau pengajian anak dianggap kurang menarik dan kalah seru dan menarik dibandingkan kegiatan lain.

Penggunaan Gadget Yang Kurang Bijak

Majunya perkembangan teknologi, terutama gadget yang makin canggih dengan harga yang murah seharusnya memberi dampak positif dengan semakin mudahnya setiap individu terhubung satu sama lain.

Namun sayangnya kemudahan penggunaan gadget ini justru memberi dampak buruk. pengguna menjadi lebih asik dan lebih sibuk dengan perangkat gadgetnya masing-masing. Orang menjadi begitu merasa ketergantungan dengan gadget.

Ada ungkapan :

Gadget mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat

Efek kecanduan gadget ini juga merubah perilaku sosial masyarakat. Saking asiknya mengutak-atik gadget, berselancar internet melalui media hape, dan sebagainya malah menurunkan kepekaan pengguna pada lingkungan sekitar. Interaksi lebih banyak melalui alat komunikasi atau internet, sedangkan interaksi secara langsung dengan bertatap muka, berkumpul, dan sejenisnya mulai berkurang.

Hal ini juga menjadi penyebab lesunya kegiatan remaja masjid di Kotagede. Seperti yang diungkapkan oleh Roni, Ketua Umum Komariyah Masjid Perak.

"Seperti gadget yang sangat berkembang sekarang, banyak remaja yang menjadi ketergantugnan dengan gadget, dampak negatif ada, dampak positif juga banyak."

Pernyataan tersebut juga didukung oleh Hanggar.

"Di satu sisi ketika teman kecil juga musuh besar yang selalu berada di dekatnya yaitu gadget. Menjadi berbeda fokus, seharusnya gadget dapat membantu kelancaran komunikasi dan memberi manfaat ketika kita butuh informasi, tetapi ketika berada pada forum malah membuat kita asik sendiri sehingga yang dekat terasa tidak dianggap.”

Sistem Pendidikan Yang Lebih Fokus Pada Kecerdasan Akademik

Dalam sistem pendidikan yang kita anut, kecerdasan akademik berada pada tingkatan tertinggi target yang harus dicapai oleh siswa. Ujian Nasional digunakan sebagai tolak ukur penilaian kecerdasan anak.

Pola pendidikan seperti ini kemudian memunculkan stigma mereka yang baik di bidang Matematika, Bahasa, dan IPA masuk kategori pintar dan memiliki masa depan cerah, sedangkan mereka yang lemah di bidang-bidang tersebut dianggap bodoh.

Untuk itu kemudian mereka di-push sedemikian rupa supaya jangan sampai tidak lulus UN atau sulit memasuki jenjang pendidikan selanjutnya di tempat yang terbaik.

Jam sekolah yang hampir memakan waktu seharian penuh, belum lagi kegiatan ekstrakurikuler, les, tugas yang menumpuk, seolah hidup mereka hanya untuk belajar dan terus belajar hingga tidak ada waktu lagi untuk kegiatan yang lain, termasuk menghidupkan remaja masjid.

Bapak Muhammad Hatta (PCM Kotagede) pernah menyampaikan keluhan mengenai padatnya kurikulum 2013 yang merampas hak anak untuk beristirahat, bersosialisasi, apalagi bermain.

"Sekolah kadang pulang sampai sore, belum lagi dilanjutkan dengan les sampai hampir maghrib, pulang les masih ada tugas yang menanti untuk dikerjakan."

Sudah saatnya sistem pendidikan di Indonesia dirubah. Bagaimana pun anak adalah manusia biasa, bukan robot, mereka memiliki dunianya sendiri yang tidak selalu soal belajar. Bersosialisasi dengan masyarakat juga penting, mempelajari softskill yang tidak didapat di sekolah melalui kegiatan organisasi juga penting.

Dukungan Orang Tua Yang Kurang

Terakhir, kesadaran orang tua dalam memberi dukungan dan dorongan pada putra-putrinya untuk bisa aktif menghidupkan masjid dengan kegiatan remaja masjid memegang peran yang tidak kalah pentingnya.

Beri kesempatan dan semangat pada mereka untuk aktif di kegiatan masjid, sejanak meninggalkan segala aktivitas belajar yang porsinya sudah melebihi batas wajar. Kemampuan berinteraksi, berorganisasi, serta memecahkan masalah bersama dalam organisasi sama pentingnya dengan nilai-nilai akademik, bahkan bisa dikatakan jauh lebih penting.

Kesimpulan

Tidak mungkin organisasi remaja masjid dan pengajian anak dapat berjalan dengan sendirinya. Diibaratkan sebagai kendaraan, gerakan ini butuh motor penggerak. Tanpa adanya kepedulian dan rasa memiliki serta keinginan untuk menghidupi maka pelan tapi pasti kelompok-kelompok ini akan benar-benar habis.

Menjalankan kegiatan remaja masjid tidak perlu kaku. KMP sebagai salah satu organisasi remaja masjid dan pengajian anak yang sampai saat ini masih tetap hidup baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan memiliki kiat khusus untuk mempertahankan eksistensi gerakannya.

KMP berusaha memberikan keleluasaan bagi masing-masing anggotanya untuk berinovasi membuat kegiatan yang sesuai dengan bakat dan minat masing-masing.

Kegiatan KMP tidak selalu mengaji, tapi sangat bervariasi, mulai dari tadarus dan TPA, olah raga, kegiatan seni, sampai kegiatan kewirausahaan.

Dengan demikian masing-masing anggota dapat merasa nyaman memilih kegiatan yang sesuai dengan interestnya. Akhirnya hal ini juga berdampak baik bagi KMP itu sendiri yang tidak pernah sepi dengan kegiatan-kegiatan positif.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon