[Wajib Baca] Detik-Detik Eksekusi Mati

1:15 PM
eksekusi mati
blogkmp.net - Satu per satu terpidana mati dieksekusi. Dan beberapa lainnya saat ini masih menunggu hari 'H' nyawa mereka dihabisi karena kejahatan luar biasa yang telah dilakukan.

Bagi kita, hukuman mati sangat pantas diganjarkan pada mereka atas perbuatan jahat yang telah mereka lakukan sebagai pengedar dan penyelundup narkoba, pembunuh sadis, begal, juga semestinya hukuman mati juga ditimpakan pada para koruptor yang telah terbukti bersalah.

Sejenak mari kita bayangkan jika diri kita berada diposisi mereka yang didakwa hukuman mati, sekedar untuk menyadarkan diri betapa jarak antara kita dengan kematian begitu tipis.

Hidup di dalam tahanan, jauh dari hingar bingar kehidupan bebas yang sebelumnya bisa kita nikmati dengan sepuasnya, bisa tertawa riang, berkumpul bersama teman, sahabat, keluarga. Pergi kemana saja kita mau, melihat dunia dengan segala keindahannya.

Tetiba semua lenyap, sebatas mata memandang hanya ada tembok pembatas dan jeruji besi, tidak ada lagi hahahihi bersama teman-teman, tidak ada lagi senyum hangat dari keluarga, tidak ada lagi pemandangan hijau gunung-gunung dan sawah-sawah, tidak ada lagi kelip lampu kota dengan segala fasilitas yang mampu memenuhi segala keinginan dan kebutuhan kita. Yang ada hanya dinding dan teralis.

Semua hilang, habis sudah, termasuk harapan untuk kembali bisa menikmati segala nikmat dunia harus kita kubur dalam-dalam di hati dan pikiran kita ketika kita tahu vonis mati sudah dijatuhkan untuk kita, tanpa ampun, tiada amnesti atau grasi.

Yang bisa dilakukan adalah menghitung mundur setiap hari, jam, dan menit menuju waktu eksekusi sambil meratapi dan menyesali segala perbuatan dan kesalahan yang telah kita perbuat dengan sengaja atau pun tidak.

Jangan dibayangkan apa yang akan kita lakukan dan dapatkan tahun depan atau di masa tua nanti, karena hampir pasti tidak akan ada tahun depan atau masa tua bagi kita. Kita sudah habis.

Situasi menjadi makin menegangkan dan mendebarkan, hari 'H' eksekusi makin dekat. Mendadak kita teringat orang tua yang belum bisa kita bahagiakan, yang harapannya belum bisa kita penuhi, yang sangat sering kita kecewakan.

Terbayang bagaimana kita begitu dimanjakan, dituruti apa pun yang kita inginkan, dijaga dan dibela dari apa pun yang mengganggu kita, disekolahkan dengan sebaik-baiknya sampai terkadang mereka harus melupakan rasa malu untuk berhutang kanan-kiri demi memberikan apa yang terbaik untuk kita, laki-laki dan gadis kecil yang begitu mereka banggakan.

Terbayang dengan jelas bagaimana ketika kita terlelap tidur mereka terbangun di malam hari, shalat dan berdoa dengan khusyu' tanpa sedikit pun lupa menyebutkan nama kita dalam setiap baris doanya.

Dan apa yang kita lakukan tidak lain hanya mengecewakan mereka, mengabaikan, tidak lagi maiu mendengarkan nasehat mereka karena merasa kita sudah dewasa, pintar, kuat, tidak lagi membutuhkan campur tangan mereka.

Impian kita untuk menikmati masa tua bersama keluarga, dengan tawa riang anak-anak dan cucu-cucu lenyap begitu saja, tidak ada kesempatan untuk bisa mewujudkan itu semua karena sebentar lagi kita harus kembali kepadaNya, membawa sedikit amal baik yang sudah kita buat serta berjuta dosa yang harus kita pertanggung-jawabkan.

Bulan, minggu, dan hari telah berubah menjadi jam.

Inilah harinya, inilah saatnya. Saat ini kita hanya punya waktu beberapa jam saja untuk menghirup oksigen di dunia sebanyak-banyaknya untuk yang terakhir kali, mata ini seolah menolak untuk berkedip supaya bisa menikmati melihat dunia seluas-luasnya untuk yang terakhir kali.

Rasa rindu dan penyesalan yang menumpuk hingga ingin rasanya bertemu dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai, yang telah kita khianati dengan kebodohan yang sudah kita lakukan hingga harus menerima konsekwensi seperti ini.

Jam berubah jadi menit...

Kita sudah berada di tempat eksekusi. Sadar, kita sadar inilah tempat terakhir yang akan kita lihat di dunia, disini, beberapa menit lagi perjalanan kita di dunia berakhir.

Kalau kita boleh mengucapkan satu permintaan terakhir, rasanya ingin mulut ini mengucapkan ampun...

'ampuni saya dan segala kesalahan saya, berikan saya satu kesempatan yang tidak akan pernah saya sia-siakan, akan saya perbaiki semua kesalahan saya, akan saya bahagiakan orang-orang yang mencintai saya dengan sebaik-baik cara, jangan eksekusi saya hari ini'

Rasanya leher ini tercekat, lidah pilu, kita tahu tak mungkin permintaan kita tersebut akan dikabulkan...kita sudah habis...

Berdiri di tempat eksekusi, ini bukan pemandangan dunia terbaik yang ingin kita lihat diakhir masa hidup kita.

Tidak ada pemandangan indah dunia, tidak ada keluarga yang menemani, tidak ada orang tua, tidak ada istri/suami, tidak ada anak-anak dan cucu-cucu, hanya mereka, sederet eksekutor yang telah siap dengan moncong-moncong senapan mengarah tepat ke jantung kita, yang cukup dengan satu komando dan tarikan pelatuk maka berakhirlah kita, kembali pulang kepadaNya dalam keadaan kotor seperti ini.

Sekelibat terlintas harapan, semoga semua ini hanya mimpi buruk, dan tarikan pelatuk nanti membangunkan kita dari mimpi kembali ke dunia nyata bersama orang-orang yang kita cintai...

Harapan tinggal harapan, hanya pasrah terhadap takdirNya yang bisa kita lakukan saat ini, hidup dan mati adalah misteri, berharap hari ini bukan hari dimana Dia menghendaki kita pulang.

Jika Allah sudah berkehendak kita mati hari ini, maka apa pun yang kita lakukan, kemana pun kita lari menghindar, mati pasti terjadi...sebaliknya jika Allah belum menghendaki kita mati hari ini, maka apa pun yang terjadi kita tidak akan mati hari ini.

Maut adalah misteri Illahi, tidak seorang pun tau kapan datangnya, tidak juga dokter paling ahli di dunia. Tak ada jaminan kita akan mati di masa tua atau malah di masa muda. Tak ada jaminan mereka yang dieksekkusi mati akan mati saat itu juga, seperti tak ada yang bisa memastikan kita yang saat ini masih muda, sehat, kuat dan berada di tempat teraman di dunia tidak akan mati hari, jam, dan detik ini.

Semua adalah hak dan kehendak Allah...

Kalau maut sudah ditentukan, siapa pun dia, walaupun dia orang paling jahat di dunia seperti Fir'aun, atau sosok manusia yang paling sempurna yang menjadi teladan manusia sedunia seperti Rasulullah SAW, semua pasti akan mati. Tidak bisa ditawar, tidak bisa ditunda barang satu detik pun.

Bagi kita yang masih muda, sehat, kuat, dan bukan seorang kriminal terpidana mati, membayangkan kematian seperti berimajinasi ke masa yang sangat jauh dari hidup kita, apalagi membayangkan kehidupan setelah kematian.

Kita mungkin masih terlalu sombong merasa masih punya banyak waktu untuk bertobat kelak ketika kita sudah tua. Tapi siapa yang menjamin kita bisa hidup sampai tua? ada kah? sayangnya tak ada satu pun yang bisa memastikan.

Banyak orang yang mati di masa tua, sama banyaknya dengan orang yang bertemu dengan maut di usia yang masih sangat belia, segar, sehat.

Satu hal yang sangat setia menunggu kita, kemana pun kita pergi, siapa pun kita, mau kaya, miskin, tua, muda, sehat, sakit, satu yang paling setia menunggu kita adalah kematian.

Adalah hak kita untuk menentukan jalan kita sendiri, termasuk bagaimana keadaan kita ketika maut sudah di depan mata, dengan cara apa kita akan mati, amal apa yang kita bawa nanti.

Tak ada satu pun yang tau kapan kita akan mati, mungkin hari ini, satu jam lagi, atau beberapa menit lagi.

Adalah bodoh jika kita menyiakan setiap detik waktu kita untuk mendzolimi diri sendiri dengan berbagai dosa dan maksiat.

Bisa jadi para terpidana mati tersebut lebih beruntung dari pada kita, setidaknya mereka memiliki gambaran kapan akan mati, lalu menggunakan sisa waktu yang tersisa untuk bertobat dan memperbanyak ibadah.

Sedangkan kita masih sibuk memuaskan diri dengan berbagai hawa nafsu, atau bahkan sudah merasa menjadi orang yang paling baik, memiliki amal yang cukup untuk menghadapi kematian, hati-hati, bisa jadi kesembongan itu justru menghanguskan seluruh amal kita.

Kita meyakini maut itu misteri, tapi keyakinan tersebut tidak diikuti dengan perbuatan untuk mempersiapkan kematian yang terbaik bagi diri kita.

Astaghfirullaah...
Astaghfirullaah...
Astaghfirullaah...

"Ya Allah , kami telah mendholimi pada diri kami sendiri, jika tidak engkau ampuni kami dan merahmati kami tentulah kami menjadi orang yang rugi"

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon