Dahsyatnya Natal - Toleransi Tanpa Ucapan Selamat

12:01 PM
Setiap tahun pada tanggal 25 Desember umat Nasrani merayakan Natal sebagai peringatan kelahiran Yesus.

Dahsyatnya Natal, ketika umat Nasrani sedang sibuk mempersiapkan segala hal untuk menyambut kedatangan hari besar agama mereka dengan penuh suka cita, justru umat Islam yang bukan pemilik ritual Natal sedang sibuk berdebat satu sama lain meributkan boleh tidaknya mengucapkan Selamat Natal.

Sebagian kalangan bersikap ekstra hati-hati, karena perkara ucapan Selamat Natal bukan perkara remeh, melainkan menyangkut keyakinan dan aqidah, bisa jadi dengan mengambil sikap yang salah malah umat akan tergiring secara halus untuk mencampur adukkan aqidah, padahal sudah jelas dalam Al-Qur'an disebutkan "Bagiku agamaku, bagimu agamamu".

Di sisi lain sebagian kalangan lagi menganggap pengucapan Selamat Natal sebagai hal yang biasa dan lumrah. Karena kita hidup di negara yang dihuni oleh masyarakat majemuk dan tidak hanya memeluk satu agama tertentu, maka hal yang lumrah dalam hubungan sosial bila kita saling mengucapkan selamat pada perayaan hari besar agama lain, seperti ketika umat non Muslim mengucapkan selamat pada saat umat Islam merayakan hari raya.

Diskusi dan perdebatan diantara kedua pendapat tersebut tak jarang berlangsung dengan sengit, hingga terlontar kata-kata yang keras dan kasar menyakiti saudara seiman, saling menuduh Wahabi, Jahiliyah, dan sebagainya tanpa didasari ilmu. Hal yang sangat memprihatinkan karena demi menjunjung "Toleransi" terhadap umat agama lain, sebagian oknum justru tidak mampu untuk bersikap toleran dan menghargai pendapat yang berbeda dikalangan intern umat Islam sendiri. Siapa yang diuntungkan?
Miris karena seolah-olah sikap toleransi yang selama ini dijunjung oleh umat Islam dengan memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi umat Nasrani dan umat agama lain dalam menjalankan ibadah dan ajaran agamanya tidak ada artinya tanpa ucapan Selamat Natal. Dan justru yang memiliki anggapan seperti itu malah sebagian orang Islam itu sendiri.

Bukankah hal terpenting yang lebih dibutuhkan dari sekedar ucapan selamat adalah jaminan bahwa setiap umat beragama dapat menjalankan agama dan ibadahnya dengan tenang, khusyu, aman, dan nyaman tanpa gangguan apa pun.

Dalam salah satu komentar di media sosial, seorang teman yang beragama Kristen bahkan menyampaikan rasa herannya, bahwa Natal adalah milik agama mereka, tetapi yang ribut-ribut dan cekcok soal Natal justru orang lain (Islam). Selain itu ia juga menyampaikan bahwa umat Kristen tidak pernah memaksa atau meminta ucapan Selamat Natal tersebut dari umat Islam. Yang terpenting adalah sikap kita yang bisa menghargai dan menghormati umat agama lain dalam melaksanakan keyakinan dan ibadahnya dengan aman walau tanpa ucapan selamat.

Polemik yang terjadi setiap tahun ini merupakan gambaran betapa umat Islam begitu mudah berpecah belah, saling menghardik satu sama lain, berdebat tanpa ilmu, sanggup menerima dan menghormati perbedaan dengan umat agama lain tetapi begitu susah menerima perbedaan pendapat dikalangan umat Islam sendiri apalagi sampai berpikir untuk mengambil pendapat mana yang lebih memiliki dasar kuat.

Terakhir, bagi pembaca yang beragama Nasrani dan sebentar lagi akan merayakan Natal, silahkan laksanakan ritual ibadah dan perayaan Natal anda dengan aman dan khidmat penuh suka cita, namun maaf, dalam keyakinan kami, kami tidak dapat memberi ucapan selamat kepada anda, tapi juga dalam keyakinan kami, kami dilarang mengganggu anda dalam beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan yang anda anut.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon