Pendidikan Karakter Anak Tanggungjawab Siapa?

2:26 PM
Miris dan prihatin, adalah hal pertama yang pasti akan kita rasakan ketika berada di salah satu warnet di Kotagede yang juga menyediakan game online. Betapa tidak, warnet tersebut dipenuhi oleh anak-anak mulai dari usia SD hingga SMP yang bermain game selepas jam sekolah.



Kata-kata kotor, umpatan, ejekan, dan berbagai makian lain nyaring terdengar bersahutan melebihi suara musik dari operator. Tidak cukup itu, sepuntung rokok dengan ujung menyala yang sudah sisa setengah batang terselip di antara jari sejumlah anak sementara kepulan nikotin mengepul keluar dari mulut-mulut mungil mereka.

Di sisi lain, rubrik hukum dan kriminal koran yang setiap hari kita baca semakin sering diwarnai oleh berita kekerasan dan kenakalan yang lebih mengarah pada tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak-anak usia remaja. Mulai dari tawuran, pelecehan seksual, bullying, pembacokan tanpa sebab jelas, dan sebagainya.

Jika kita mau sedikit meningkatkan kepekaan dan membuka mata lebih lebar melihat lingkungan terdekat di sekitar kita, kita akan menyadari bahwa di lingkungan kita, lingkungan keluarga kita dan lingkungan masyarakat kita, sudah mulai tumbuh gejala-gejala seperti contoh di atas. Perhatikan anak-anak kita, saudara-saudara kita, anak-anak di sekitar kita.

Anak-anak remaja mulai belajar merokok, bahkan lebih parahnya lagi mereka mulai berkenalan dengan minuman keras (miras). Kata-kata kotor dan kalimat-kalimat tidak pantas sudah menjadi bahasa pergaulan mereka sehari-hari, merasa bangga atas pencapaian yang mereka dapat walaupun itu adalah hal yang negatif, bahkan rasa hormat pada orang yang lebih tua sudah mulai luntur.

Jelas ini mengindikasikan bahwa ada yang salah diantara kita. Ada yang salah dengan pola asuh orang tua terhadap anak, ada yang salah dengan sikap keluarga terhadap anak-anak, ada yang kurang pada kepedulian lingkungan masyarakat terhadap perkembangan karakter seorang anak. Atau mungkin kita sendiri termasuk dari orang yang terlalu acuh dan cenderung membiarkan hal seperti ini terjadi di sekitar kita?

Lalu siapa yang lebih bertanggung jawab? Apakah keluarga? Lingkungan? Atau siapa?
Bagaimana pula peran organisasi remaja masjid dan pengajian anak-anak yang gaungnya begitu ramai selama bulan Ramadhan seharusnya?

Orang Tua Dan Keluarga
    Tempat pertama yang harus kita cermati mendalam adalah lingkungan keluarga. Ketika anak begitu mudah melakukan hal-hal buruk di luar sana, mungkin semua berawal dari lingkungan keluarga. Keluarga adalah lingkungan terdekat setiap orang. Di sini anak banyak belajar dan menirukan apa yang biasa mereka dengar dan lihat dari orang tua dan anggota keluarga lainnya.

    Mungkin ada yang salah dengan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Sudahkah orang tua memberikan teladan yang baik kepada anak-anak mereka? Apakah orang tua selalu menggunakan kata-kata yang santun saat berbicara dan memberi nasehat pada anak-anaknya? Apakah orang tua sudah menjalankan perannya sebagai sahabat terdekat yang dapat dipercaya oleh anak? Apakah kondisi hubungan keluarga sudah cukup harmonis dan ramah bagi anak?

    Tidak sedikit orang tua yang kurang menyadari peran mereka yang seharusnya. Menganggap bahwa tugas mereka sebagai orang tua hanya sebatas mencari nafkah, membiayai sekolah dan kebutuhan anak-anaknya, sehingga perhatian dan pendidikan agama, budi pekerti, serta karakter untuk anak justru terlupakan atau membiarkan anak belajar sendiri dari apa yang mereka lihat dan dengar di sekitar mereka tanpa diiringi oleh bimbingan orang tua.

    Terlalu membiarkan dan memaklumi tingkah polah anak tanpa memberi arahan yang benar dan salah bukanlah sikap orang tua yang bijak. Demikian pula terlalu mengekang dan mendidik mereka dengan keras juga tidak akan memberi dampak yang baik bagi perkembangan anak.

    Setiap orang tua tentu ingin memiliki anak yang sholeh dan sholehah, maka dari itu tidak cukup hanya dengan memasukkan anak ke TPA, pengajian anak-anak, atau sekolah yang berbasis agama kalau tidak didukung dengan support orang tua berupa teladan dan nasehat yang baik melalui sikap dan tutur kata atau cara bicara, lingkungan keluarga yang harmonis, dan penerimaan serta perlindungan yang baik terhadap anak oleh orang tua dan setiap komponen keluarga.

    Tidak ada kata terlambat jika memang ada yang harus diperbaiki. Sebelum apa yang sudah tertanam dalam diri anak semakin erat dan menjelma menjadi jati diri yang salah di masa depan.

Lingkungan Masyarakat
    Selanjutnya adalah lingkungan masyarakat. Jika kita merasa sudah tidak ada yang salah dengan lingkungan keluarga kita, maka kita perlu mencermati lingkungan pergaulan dan masyarakat di sekitar kita, apakah lingkungan yang ada sudah cukup aman dan ramah bagi anak, atau belum?

    Sebagai makhluk sosial tentu kita perlu mengenalkan anak pada lingkungan masyarakat sejak dini. Pada tiap-tiap kelompok masyarakat terdapat beragam karakter yang bisa kita temui, ada yang baik, begitu pula tidak sedikit yang buruk, khususnya bagi anak-anak.

“Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda” – Robert Fulghum

    Anak adalah peniru yang handal. Pada usia-usia dini sampai remaja mereka belum memiliki kontrol dan perlindungan yang kuat dari pengaruh lingkungan terhadap dirinya. Ketika mereka tidak mampu memberi warna atau pengaruh terhadap lingkungan seperti apa yang orang tua mereka tanamkan di rumah, maka lingkungan yang akan mempengaruhi mereka.

    Anak-anak akan cenderung mengikuti dan meniru apa yang mereka lihat dan dengar dari orang-orang dewasa atau yang lebih tua di sekitar mereka, meskipun itu adalah sesuatu yang buruk sekalipun. Lalu tanpa adanya kontrol dari orang tua maupun orang dewasa di sekitar mereka maka mereka akan cenderung menganggap hal yang sebenarnya buruk tersebut sebagai sesuatu yang normal dan lumrah.

    Sebagai contoh ketika mereka berada di lingkungan perokok, maka mereka akan mulai belajar untuk merokok. Tidak sedikit anak remaja yang justru menggunakan rokok sebagai alat untuk mendapat pengakuan bahwa mereka sudah dewasa dan patut disegani. Hal ini didukung pula oleh rendahnya perhatian masyarakat terutama pedagang rokok yang masih sangat memudahkan anak-anak di bawah umur membeli rokok.

    Demikian pula jika anak berada di lingkungan yang di sekitarnya orang-orang terbiasa mengeluarkan kata-kata kasar, kotor, umpatan, dan sebagainya maka mereka akan menganggap itu sebagai hal yang boleh dilakukan, lalu mereka pun pelan-pelan mulai meniru.

    Prihatin bahwa tidak sedikit orang-orang dewasa di sekitar mereka justru seperti ngelulu dan menganggap lucu ketika seorang anak bisa menirukan bagaimana cara mereka berbicara, bagaimana mereka dengan ringan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, bahkan mungkin menyodori rokok untuk dicoba lalu puas ketika si anak terbatuk-batuk. Atau mungkin menasehati anak-anak tapi dengan menggunakan kata-kata yang kasar dan nada yang keras.

    Membiarkan seorang anak menirukan tingkah polah buruk dari orang dewasa dengan dalih bahwa mereka setelah dewasa akan tahu sendiri mana yang benar dan mana yang salah dapat berakibat buruk bagi perkembangan karakter anak. Sebagian dari mereka mungkin akan lolos dan tumbuh menjadi pribadi yang baik, tapi tidak sedikit yang justru makin bertambah buruk.
    Di sinilah peran lingkungan tidak bisa lepas dari tanggung jawab terbentuknya karakter seorang anak. Apakah mereka anak yang penurut, santun, sopan, sholeh, atau menjadi anak yang bandel, suka berkata kotor, kasar, dan nakal.
    Kita mungkin bukan termasuk anggota keluarga si anak, tapi setiap dari kita pasti merupakan bagian dari lingkungan masyarakat yang turut bertanggung jawab dalam pembentukan karakter anak-anak di sekitar kita.
    Biasakan berperilaku baik, bertutur kata santun dan sopan, tidak bersikap kasar, memberi contoh bagaimana menghormati orang yang lebih tua, dan tidak memberi contoh buruk sekecil apapun pada anak-anak. Maka dengan demikian lingkungan masyarakat akan menjadi lebih ramah dan kondusif sehingga anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Remaja Masjid Dan Pengajian Anak-Anak
    Bersyukur kita tinggal di Kotagede, dimana pengajian anak-anak dan organisasi-organisasi remaja masjid tumbuh subur di masjid, musholla, dan langgar di sekitar kita.

    Remaja masjid dan pengajian anak-anak sejatinya adalah suatu organisasi atau komunitas yang memiliki fungsi sebagai wadah bagi anak-anak muda untuk dapat belajar agama dan terlibat dalam upaya memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan positif.

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menuaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. at-Taubah:18)

    Selain mengisi kegiatan dengan ibadah yang bersifat ritual seperti shalat, tadarus Al-Qur’an, maupun pengajian-pengajian dan kegiatan-kegiatan sosial. Remaja masjid dan pengajian anak-anak juga harus ikut berperan aktif dalam menciptakan lingkungan pergaulan yang kondusif, nyaman dan Islami bagi anak-anak dan remaja ketika diluar sana mereka tidak mendapati lingkungan pergaulan yang semestinya.

    Remaja masjid, dalam hal ini pengasuh pengajian anak-anak semestinya menyadari pentingnya peran mereka dalam menciptakan generasi penerus yang lebih baik. Tidaklah pantas bagi seorang remaja masjid memberikan contoh-contoh yang buruk, baik melalui perkataan yang kotor, nada bicara yang tinggi, ataupun sikap yang kasar pada anak-anak didiknya, baik ketika berada di lingkungan masjid maupun ketika berada di luar. Selain berdampak baik bagi anak-anak, membiasakan diri dengan hal-hal yang positif juga akan memberi dampak baik bagi masing-masing diri si pengasuh.

    Sayangnya, pada kenyataannya banyak orang tua yang menaruh harapan begitu besar pada organisasi remaja masjid dan pengajian anak-anak untuk mendidik putra-putrinya menjadi anak yang sholeh, santun, dan ramah, sementara mereka masih kurang memperhatikan lingkungan pergaulan putra-putrinya di masyarakat, kurang bisa memberi teladan dan dukungan positif dari rumah, atau bahkan kurang memberikan dukungan kepada organisasi remaja masjid itu sendiri.

    Ketika ada yang salah dengan perilaku anak, maka tidak jarang justru organisasi remaja masjid dan pengajian anak-anak yang harus memikul beban tanggung jawab seolah-olah mereka sudah gagal dalam mendidik.

    Selain dukungan dari takmir masjid, keberlangsungan sebuah organisasi remaja masjid dan pengajian anak-anak tidak lepas dari dukungan orang tua masing-masing. Hendaknya orang tua ikut mendorong putra-putrinya untuk dapat ikut aktif dalam kegiatan remaja masjid, bukan acuh atau bahkan melarang.

    Dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter seorang anak tidak lepas dari tanggung jawab semua pihak yang harus saling mendukung satu sama lain. Orang tua dan keluarga sebagai lingkungan terdekat semestinya memberi teladan yang baik pada anak-anak, menanamkan ilmu agama sejak dini sesuai dengan usianya, mengajarkan adab-adab pergaulan, yang kemudian disambut dengan kondisi lingkungan masyarakat sekitar yang kondusif dan mendukung anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang santun, cerdas, ramah, serta memiliki sikap respek terhadap orang tua.

    Kemudian komunitas remaja masjid dan pengajian anak-anak memainkan peran sebagai tempat untuk anak mengenal agamanya lebih dalam, belajar ilmu pengetahun, bermain, dan sarana pengembangan diri melalui cara-cara yang menyenangkan, karena komunitas ini digerakkan oleh anak-anak muda yang tentunya lebih mengerti apa yang mereka butuh dan minati.

    Jika salah satu bagian dari lingkungan anak tersebut terputus dan tanpa adanya perhatian dari bagian yang lain, maka tentu hasilnya akan kurang maksimal atau menjadi sia-sia saja. Misalnya dilingkungan masjid sudah berusaha membangun kondisi lingkungan yang kondusif dan islami. Namun diluar lingkungan itu anak-anak diajarkan dan dipertontonkan dengan pola pergaulan yang kurang baik seperti berkata kotor, merokok dan mabuk-mabukan. Hal ini yang menjadikan pendidikan karakter yang telah dilakukan salah satu lingkungan tersebut menjadi kurang maksimal.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 Komentar

Write Komentar
April 15, 2015 at 11:46 PM delete

Wah sangat bermanfaat sekali buat saya pribadi, saya yakin artikel ini juga bermanfaat banyak terhadap pembaca lainnya seperti yang saya alami.
Terimakasih bos atas infonya, sukses selalu ..!!

Reply
avatar
April 26, 2017 at 11:20 AM delete

yup, i'm agree with you, ketika semua pihak itu menopang tumbuh.a karakter seseorang. ketika ada yg kurang, Jelas ini mengindikasikan bahwa ada yang salah diantara "KITA". belajar sendiri? coba kita renungkan, apakah manusia bisa hidup sendiri? manusia itu makhluk sosial, punya akal dan hati.
menilik keadaan sekitar, yg ingin saya tanyakan dari artikel ini, apakah orang yang melakukan kesalahan atau tindakan buruk itu disisihkan? Dalam contoh diatas secara garis besar kita perlu melakukan tindakan positif, belajar TPA, BERGAUL DENGAN ORANG BAIK. Namun ditempat orang baik itu pastilah banyak org baik, sedang orang2 yg menyimpang ditempat yg buruk, bukankah itu mengkotak-kotakkan manusia? kalau begitu siapa yg merangkul, peduli dgn mereka yg menyimpang? dibiarkan saja? atau semakin disisihkan? hanya segelintir orang yg menyadari.a. bukankah menjauhi dapat memperburuk keadaan, bahkan dalam kitab islam pun diterangkan seluruh manusia itu bersaudara, tapi APA? org salah dikit, dicaci, dihina, digunjingkan, dll apakah karakter itu mencerminkan keislaman kita? bahkan sahabat nabi saja pernah mengungkapkan jikalau ingin memberi nasihat, dekati orang.a dan berkatalah, bkn seperti 'TOA'. Mari kita bercermin kediri sendiri, dunia ini adalah ladang yg tak selamanya kita tinggali, kalau kita emang peka kenapa masih banyak kejahatan meraja lela? saya kenal banyak teman2 yg brokenhome, pengguna narkotika, pekerja seks, hingga mereka ingin bunuh diri. Dari berbagai curhatan mereka yang saya dengarkan, mereka sejati.a tidak ingin melakukan tindakan salah, bahkan mereka tau bahwa itu salah, tapi siapa yg peka, peduli dgn mereka? apakah mereka sepenuh.a salah? "RANGKULAN" KITAlah yg mereka butuhkan, bukan sekedar kata yg mengiris mereka, bahkan tindakan yg semakin menyudutkan.a,Bukankah kita adalah sama-sama MakhlukNYA, Bukankah kita adalah Saudara Seiman, bahkan bukan dengan saudara seiman saja kita perlu saling menghargaikan? lingkungan yang harmonis dapat tercipta ketika adakalanya kita PEKA terhadap sekitar kita. bkn saling mengacuhkan satu sama lain, berbicara itu mudah, namun tindakan nyata yg membuatnya lebih indah.

Reply
avatar

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon