Dari Sini Segalanya Mungkin

9:03 AM


Mata saya masih terus saja memandang kaos hitam buatan pertengahan dekade 2000-an itu. Bukan kaos itu yang mengusik pikiran saya, tapi sebuah kalimat di kaos tersebut, sebuah kalimat yang muncul secara spontan pada waktu itu ketika saya dan teman-teman sedang berembug untuk membuat desain kaos kembaran untuk keluarga besar Komariyah Masjid Perak. “ DARI SINI SEGALANYA MUNGKIN ” ya kalimat sederhana itu yang tercetak pada kaos tersebut, dan sekarang setelah kaki saya mengarungi waktu jauh meninggalkan waktu dimana senyum kepuasan kami setelah kaos itu selesai diproduksi  dan mulai berpindah ke lemari baju rekan-rekan keluarga besar Komariyah Masjid Perak,  kalimat di kaos tersebut saya rasa menjadi sebuah kalimat yang luar biasa, bukan lagi sebuah kalimat yang hanya jadi pemanis desain kaos hitam yang tergantung itu.


Pikiran saya yang masih dangkal ini mulai meretas kedalam ingatan-ingatan lama dan mulai merajut keterhubungan antara kalimat luar biasa itu dengan semangat hidup orang-orang “hebat” yang pernah saya jumpai ini.

Pertengahan tahun 2009 ketika saya sedang ditugaskan di pedalaman pulau Papua, secara tidak sengaja saya bertemu seorang bapak yang sedang membersihkan ladangnya. Cuaca ketika itu sedang panas-panasnya, dan saya menumpang berteduh di gubuk beliau untuk sekedar melepas penat. Bapak itu yang sepertinya sudah selesai dengan pekerjaanya mulai menghampiri saya, dan mulailah terjadi obrolan ringan. Awalnya hanya obrolan biasa dan sampai akhirnya saya yang merasa penasaran dengan beliau yang bisa bertahan di tempat yang menurut saya seterpencil ini. Saya ajukan pertanyaan kepada beliau , pertanyaan yang belum pernah saya alami selama tinggal di Yogyakarta. 

Waktu itu saya bertanya , “Bapak kalau misalnya harus memilih tinggal di Papua atau tinggal di Jawa, Bapak pilih tinggal dimana ?” , beliau dengan mantab menjawab “ saya tetap pilih tinggal di Papua nak”. Saya yang ingin tahu alas an beliau lalu meneruskan bertanya , “ Pak disini itu biaya hidup mahal, beli telur 1 butir saja Rp 8.000 , beli bensin Rp 25.000/liter , apa nggak berat hidup seperti itu Pak ?” 

Bapak itu menerawang memandang awan yang bergerak di angkasa dan sejurus kemudian memandang saya dan mulai berkata, “nak, kehidupan ini berat atau tidaknya tergantung kita menjalaninya. Jika kita niat dan bepikir bahwa kita bisa menjalaninya pasti akan mudah bagi kita untuk melaluinya. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, dulu saya berpikir , saya harus berusaha membuat ladang ini menjadi sumber kehidupan bagi  saya dan keluarga saya, dan lihatlah nak , sekarang benar terjadi, dari ladang ini anak saya bisa melanjutkan pendidikan S1 di  Jayapura. Semua itu karena tekad , bahwa semua mungkin terjadi”. 

Mendengar itu seketika saya merasa “kecil” dibandingkan beliau, Bapak yang hidup di daerah terpencil ini bisa begitu kuat menjalani hidup yang saya rasa berat ini, sedangkan saya yang tinggal di Jawa yang notabene harga-harga masih lebih murah bila dibandingkan di Papua, sering merasa berat bahkan mengeluh ketika BBM dinaikan barang seribu rupiah. Akhirnya setelah melanjutkan perbincangan dan cuaca mulai terasa bersahabat, saya mohon diri untuk melanjutkan perjalanan. Dari gubuk di tempat seperti ini saya mendapat wejangan hidup yang luar biasa.

Perjanan berlanjut, dan pada penghabisan taun 2010 kaki ini melangkah di Pulau Wetar, pulau kecil yang mungkin tidak tergambar di peta skala besar. Perjalanan melelahkan 18 jam dari Kupang, NTT melewati laut Sawu terbayar sudah ketika kapal Pangrango mulai merapat di dermaga Ilwaki, ibukota kecamatan Wetar.
Pemandangan yang masih alami seketika mengobati mata yang kelelahan karena kurang beristirahat. Berminggu-minggu tinggal di pulau ini, saya mulai sering bertemu dan srawung dengan orang-orang yang tinggal di pulau ini, sekedar mengobrol untuk membunuh kebosanan atau melempar kail memancing bersama mereka. 

Hingga pada suatu sore saya bertemu dengan seorang bapak yang sedang sama-sama memancing. Joran bapak itu melengkung tanda ada ikan yang memakan umpannya, dengan sigap bapak itu menariknya dan tanpa perlu waktu lama seekor ikan besar sudah naik ke permukaan. Tak berselang lama bapak itu berucap “ Alhamdulillah” tanda syukur atas karunia ikan yang beliau dapat, saya kaget , ya saya kaget karena di pulau ini baru pertama kali saya  mendengar ucapan tersebut diucapkan penduduk pribumi.  Dalam hati saya yakin bapak ini pasti seorang muslim, tapi untuk memastikan saya ingin mencoba bertanya kepada beliau. 

Ditengah obrolan ringan yang keluar sambil menunggu umpan kita dimakan ikan-ikan yang mondar-mandir di bawah  perairan selat Wetar itu saya ingin menuntaskan rasa penasaran saya, mulailah saya bertanya “tadi saya dengar bapak berucap Alhamdulillah, maaf Bapak ini muslim ya ?” , beliau tersenyum dan berkata “adik heran ya, tidak menyangka ada penduduk muslim di pulau ini.  Ya benar Alhamdulillah saya muslim dik, keluarga saya satu-satunya muslim di pulau ini”. Karena sudah yakin bahwa beliau muslim saya pun melanjutkan bertanya , “Pak, disini keluarga bapak bisa dibilang minoritas, selama saya disini belum pernah saya melihat masjid atau surau. Pasti berat menjalaninya ya , apalagi waktu bulan Ramadhan, hanya keluarga bapak yang menjalani ibadah puasa?” beliau tersenyum lagi dan dengan senang hati menjawab, “dik, kita beriman itu niat karena ingin beribadah kepada Allah Ta’ala , kalau kita yakin dengan iman ini niscaya akan diberi kemudahan. Kalau masalah berat atau tidaknya tergantung kitanya yang menjalani. Kalau kita berpikir dan yakin bahwa kita bisa mudah menjalaninya pasti mudah dik, apa yang tidak mungkin untuk Allah SWT, ketika Allah ingin mempermudah jalan hambaNya pastilah dipermudah. Yang pentingkita selalu berdo’a, ikhtiar, kalau kita yakin pastilah Allah SWT memberi jalanNya yang memudahkan kita”. 

Ketika beliau selesai memberi penjelasannya, saya merasa seperti ditikam sembilu, saya yang di kampung halaman masih diberi kemudahan dalam hal waktu dan sarana untuk beribadah dan berkumpul dengan orang-orang seiman masih saja kadang belum sempurna menjalankan keimanan ini, sedangkan beliau dan keluarganya dengan segala keterbatasan masih bisa dengan teguh menjalankan keimanannya, dan kata-kata bapak itu seperti pukulan telak yang membuat saya KO.

Musim dingin akhir tahun 2013 ini sepertinya bisa membuat tulang-tulang tropisku menggigil ngilu menahan suhu 5°C yang belum pernah aku alami di kampung halaman. Memang belum ada salju, tapi rasa dinginnya mengalahkan dingin ketika dulu saya masih sering melangkahkan kaki di puncak-puncak gunung di pulau Jawa. Pagi ini matahari belum muncul juga , kutengok jam di pergelangan tangan, sudah jam 09:00 LT, kulangkahkan kaki menapaki jalan setapak menuju bukit yang tidak seberapa tinggi itu, sekedar untuk menghangatkan badan. 

Setengah perjalanan, rasa lelah dan badan yang masih menggigil memaksa saya untuk berhenti sejenak, sambil bersandar di sebuah pohon kuminum teh hangat yang sudah saya siapkan dari rumah. Saya arahkan pandangan ke ujung jalan setapak ini, puncak masih jauh, di kejauhan terlihat siluet,  menandakan ada seorang yang sedang berjalan turun. Sambil mengambil nafas yang terdengar putus-putus, saya mengingat saat-saat dulu ketika masih suka mendaki gunung bersama teman-teman, ah kaki ini sudah tak sekuat dulu. 

Ditengah lamunan nostalgia, sebuah sapaan menyadarkan saya dari lamunan, “Sabaee dee” (semacam sapaan hallo, apa kabar –red ) suara seorang ibu menyapa saya , setengah terkejut langsung saya membalas “Sabaee dee too sau mek”, Ibu itu tersenyum dan lalu ikut beristirahat di bawah pohon bersama saya, dalam hati saya berpikir cepat sekali ibu ini berjalan, kuperkirakan umur ibu ini hampir 70 tahunan. Ibu itu kemudian meletakan potongan kayu bakar yang dari tadi dipikulnya, “banyak benar kayu yang ibu bawa ini” kata saya dalam hati, kalau saya disuruh mengangkat kayu itu dari puncak bukit, mungkin 1 hari 1 malam baru bisa sampai di tempat ini. 

Setelah ibu itu duduk saya tawarkan air mineral yang belum sempat saya buka, ibu itu menerima sambil tersenyum dan berkata “khorb jai” (terimakasih –red). Dengan perbendaharaan kata bahasa lokal yang bisa dibilang masih kategori dasar, saya mulai membuka percakapan dengan ibu itu. Saya merasa salut dengan semangat beliau, akhirnya mulailah saya bertanya,  dari bertanya basa-basi ambil kayu dimana?, untuk apa?, pertanyaan yang sudah saya tahu jawabannya,  saya sudah tahu kalau mengambilnya di puncak bukit, dan pastinya untuk kayu bakar, karena minyak tanah disini harganya selangit tanpa ada subsidi, apalagi konversi ke LPG, ya sekedar basa-basi untuk memulai percakapan. Hingga akhirnya saya ajukan pertanyaan yang menjadi inti rasa salut saya kepada beliau, “Ibu kok masih kuat membawa kayu seberat itu, saya saja mungkin tidak kuat kok Bu membawanya?” ibu itu tertawa dan berujar dengan pelan karena tahu saya tidak bisa memahami kalau beliau berbicara dengan cepat “Kalau bukan saya yang mencari kayu, terus bagaimana saya mau memasak. Suami saya sakit, saya tidak punya anak”  Saya memahami maksud beliau, dan meneruskan “Tapi kayu itu berat kan Bu?”  beliau langsung menjawab dengan mimik serius “Benar kayu itu berat, kalau tidak percaya silakan coba angkat. Tapi kenapa saya bisa merasa ringan memikulnya, karena ini ( ibu itu menunjuk kepalanya ), pikiran saya yang bilang kalau kayu itu ringan, ketika pikiran sudah berkata ringan maka tubuh ini merasakan seperti apa yang di perintahkan oleh pikiran, Indo (orang lokal kalau memanggil saya Indo –red) paham maksud saya?” Saya meresapi setiap kalimat ibu itu dan mencoba memahami kata-kata hebat ini. “Khorb jai, saya mengerti Bu”

Sebagian pelajaran yang pernah saya jumpai tersebut mulai menemukan hubungan dengan kalimat hebat di kaos hitam yang tergantung itu, The Power of  Dari Sini Segalanya Mungkin, ya kekuatan keyakinan kita yang akan mempermudah jalan kita untuk melewati segala permasalahan yang kita hadapi. Ketika kita bepikir postif akan segala permasalahan, dan berpikir untuk membuatnya mudah untuk dihadapi, maka pikiran akan mengirimkan getaran positif tersebut kepada alam, dan atas seijin Allah Ta’ala alam akan mengembalikan getaran positif itu ke dalam tubuh dan pikiran kita. Oleh karena itu, selalu berpikir positiflah atas segala permasalahan , selalu berikhtiar , dan tak lupa berdo’a memohon kepada Allah SWT untuk dipermudah dalam segala urusan di dunia. So, di dunia ini semuanya bisa mungkin terjadi, tinggal kita yang membuatnya untuk menjadi mudah atau sulit,  jangan hanya jadikan kalimat di kaos hitam itu sebagai sebuah pemanis desain, tapi jadikan semangat kebangkitanmu. DARI SINI SEGALANYA MUNGKIN………………………..

Wassalam,
Vientiane Capital, June 19 2014


Penulis : Rangga (mantan pengasuh KMP yang karena pekerjaannya di pertambangan menjadikannya sering berpetualang dari pelosok ke pelosok di dalam dan luar negeri)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon