Refleksi Gempa Jogja 27 Mei 2006

10:17 AM
gempa jogja 27 mei 2006
Foto : sabtukelabu.blogspot.com
Pagi, Sabtu Wage 27 Mei 2006, seharusnya pagi itu menjadi pagi-pagi seperti biasanya, semua orang tengah sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk memulai aktivitas hari itu.

Namun tanpa disangka, saat waktu menunjukkan pukul 05.53 wib sebuah peristiwa memilukan yang tidak akan mungkin dapat dilupakan sebagian besar warga Jogja, Klaten dan sekitarnya terjadi, Allah menunjukkan kuasanya, dengan sedikit sentuhan bumi pun berguncang, gempa bumi melanda Jogja dengan kekuatan 5,9 skala richter.


Seketika semua orang berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri, sebagian lainnya tidak seberuntung itu, mereka terjebak di dalam rumah, tertimpa puing-puing bangunan, ratusan ribu rumah hancur, 37.927 orang luka-luka, dan 5.716 lainnya tidak sempat menyelamatkan diri dan harus meregang nyawa, semua adalah kehendak Allah.

Hanya dalam 52 detik saja sebagian wilayah Jogja khususnya Bantul, dan Klaten (Jawa Tengah) luluh lantak, sekian banyak rumah sakit yang ada di Jogja seakan tidak cukup lagi menampung puluhan ribu korban yang terluka termasuk korban tewas, dan tak terhitung lagi korban yang mengalami trauma psikis serta duka mendalam karena kehilangan sanak keluarga dan orang-orang terdekat.

Tidak sampai disitu saja gempa terjadi, selama beberapa jam bahkan beberapa hari berikutnya masyarakat yang masih dalam kondisi trauma tetap diteror ketakutan akan gempa susulan yang terjadi setiap 5 menit dengan sekala yang bervariasi namun lebih kecil dari pada gempa pertama.

Tenda-tenda darurat mulai didirikan untuk menampung warga yang kehilangan rumahnya ataupun warga yang masih takut untuk kembali ke rumahnya, bantuan makanan, pakaian, dan segala perlengkapan mulai datang dari berbagai sumber, kantor kepresidenan berpindah ke Gedung Agung Jogja untuk memudahkan presiden SBY memantau aliran bantuan untuk korban gempa.

Namun sesuai dengan yang dijanjikan oleh Allah bahwa dalam setiap bencana pasti ada hikmah didalamnya, tidak terkecuali pada peristiwa gempa Jogja 27 Mei 2006 lalu, dalam kehidupan di pengungsian, semangat gotong royong di antara para warga semakin kuat, semua bahu membahu membersihkan puing-puing bangunan dari satu rumah ke rumah yang lain, kerja bakti membuka akses jalan, bahkan saling menghibur satu sama lain.

Masjid-masjid pun menjadi semakin ramai, orang-orang yang tadinya jarang terlihat di masjid menjadi rajin ke masjid, shalat 5 waktu di masjid selalu ramai, sekiranya Allah hanya ingin mengingatkan kepada manusia agar mereka tidak sombong dan merasa dirinya hebat, Allah sangat menyayangi hambanya dan ingin mengingatkan agar kita senantiasa mengingat-Nya, bahwa kita (manusia) bukan apa-apa, bahkan siapa pun kita, seberapa banyaknya harta kita, seberapa kuatnya kita tidak akan mampu menghadapi kekuasaan dan takdir Allah.

Gempa Jogja 27 Mei 2006 merupakan satu pelajaran berharga bagi kita, bahwa hidup kita dan segala yang kita miliki sejatinya adalah milik-Nya, dan akan kembali kepada-Nya kapanpun Ia menghendaki.

Sebagai manusia yang diberi kelebihan akal dan pikiran, seharusnya kita mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa, mensyukuri apa yang Ia berikan tanpa harus menjadi sombong, manfaatkan hidup yang singkat ini dengan sebaik-baiknya, jangan sisakan waktu sedetik pun untuk maksiat, dan senantiasa meningkatkan keimanan kita.

Semoga Allah tidak perlu memberikan peringatan sekeras itu lagi kepada kita, Aamiin...


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon