Dari Sambisari Sampai Landasan Pacu Adi Sucipto Dan Landing Di Soto Pak Sabar

3:30 PM
Candi Sambisari
Candi Sambisari
Jam menunjukkan pukul 06.15 pagi, Masjid Perak yang menjadi tempat berkumpul anggota KRG tampak masih tetap sepi tanpa tambahan orang lagi, hanya ada Wawan dan Adin. Beberapa anggota yang lain memang sempat menyatakan mau ikut walaupun pada akhirnya kebanyakan batal ikut.

Pantang surut, meskipun hanya beranggotakan dua personil akhirnya KRG tetap berangkat menuju objek yang sudah disepakati sebelumnya, Candi Sambisari.

Melintasi pasar Kotagede yang tampak sudah mulai bergeliat sejak beberapa jam sebelumnya, menyambut hari minggu pagi yang bertepatan dengan hari pasaran (Legi) tim KRG mantap meluncur ke arah timur.

Dengan personil dua orang terasa seperti ketika masa-masa awal menjelang KRG dibentuk, dimana mulanya memang dimulai dari kegiatan bersepeda beberapa anggota, kadang sendiri, berdua, atau bertiga.

Sempat berhenti di timur pagar pembatas bandara Adi Sucipto, perjalanan menuju Candi Sambisari terus dilanjutkan. Beberapa kali bertemu dengan rombongan sepeda lainnya yang juga sama-sama menuju Candi Sambisari.

Sebagai objek wisata, Candi Sambisari memang bisa dibilang hampir tidak memiliki area parkir, sepeda yang kami bawa akhirnya dititipkan di luar, di dekat loket masuk kompleks candi.

Dengan membayar biaya tiket masuk dewasa masing-masing Rp 2.000 kami sudah disambut oleh salah satu bangunan bersejarah yang selain menyimpan cerita peradaban masa lampau juga menyimpan cerita ganasnya letusan Merapi tahun 1006 hingga menimbun daerah-daerah di sekitarnya, tidak luput Candi Sambisari yang letaknya relatif jauh dari Gunung Merapi.

Candi Sambisari
Komplek Candi Sambisari
Candi Sambisari merupakan candi Hindu, terlihat dari bentuk bangunan dan patung-patung yang menghiasi bangunan candi utama atau candi induk.

Kompleks Candi Sambisari terdiri dari sebuah candi induk berbentuk persegi dengan ukuran 13,65m x 13,65m dan tinggi 7,5m, di depan candi induk terdapat tiga buah candi pewara berbentuk persegi dengan ukuran 4,8 x 4,8 m dan tinggi 5 m. Keseluruhan komplek candi dikelilingi tembok berukuran 50m x 48m.

Candi Sambisari
Bangunan candi utama Candi Sambisari


Candi ini ditemukan secara tidak sengaja ada bulan Juli 1966 oleh seorang petani yang sedang mencangkul sawah dan secara tiba-tiba mata cangkulnya membentur batu berukir. Setelah diselidiki ternyata batu tersebut merupakan bagian kecil dari sebuah komplek candi. Candi ini sendiri tertimbun di dalam tanah sedalam 6,5 m.

Candi Sambisari
Koleksi foto di ruang dokumentasi


Untuk mengetahui asal-usul serta dokumentasi sejarah Candi Sambisari, kita bisa menuju ruang dokumentasi yang terletak di sebelah barat loket masuk, di sana terdapat koleksi foto, catatan sejarah, maket miniatur komplek candi dan beberapa benda yang ditemukan di sekitar candi.

Puas menjelajahi candi, perjalanan dilanjutkan berburu kuliner sekaligus bermaksud pulang ke rumah. Tapi berhubung ditengah perjalanan pulang ternyata seorang lagi anggota KRG berangkat menyusul kami, akhirnya rute pulang yang ke barat diubah ke selatan, menuju bandara Adi Sucipto.

Perjalanan menuju titik pertemuan dengan Yogi harus melintasi rute terlarang yang sebenarnya bukan merupakan jalan umum untuk warga karena termasuk ke dalam komplek bandara Adi Sucipto.

Sempat salah jalan, tapi akhirnya tiba juga di titik pertemuan, dari sini tim KRG sekarang menjadi tiga orang. Sejenak beristirahat sambil menyaksikan pesawat yang take off dari bandara Adi Sucipto.

Pesawat meninggalkan landasan bandara Adi Sucipto
Menghindari matahari yang makin panas, perjalanan dilanjutkan pulang dengan sekalian mampir berburu kuliner.

Sepanjang perjalanan dari Adi Sucipto hingga menyeberang ke barat ring road kami belum menemukan sesuatu yang menarik untuk di coba, sampai akhirnya tiba di Jl. Gedong Kuning kami tertarik mampir di warung soto sapi Pak Sabar.

warung soto sapi pak sabar
warung soto sapi pak sabar


Di area parkir depan warung yang cukup luas terlihat beberapa mobil sudah terparkir, tandanya pengunjung sudah mulai berdatangan. Segera setelah memarkir sepeda kami masuk ke dalam warung yang bernuansa bambu di kiri kanan dinding dan di lincaknya.

Meskipun berada di pinggir jalan besar, namun warung yang terletak agak menjorok ke dalam ini tetap terasa tenang dan lumayan sejuk karena di atas awan tipis menyelimuti kota Jogja.

Tanpa menunggu lama akhirnya pesanan kami tiga mangkok soto campur plus tiga gelas minuman segera datang. Nasi putih dengan taburan sedikit kubis, thokolan, dan irisan daging sapi disiram dengan kuah soto yang bening makin segar dengan perasan jeruk, sambel, dan sedikit kecap. Seperti rasa haus yang ada di sepanjang perjalanan luntur di siram kuah soto dan segelas minumannya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon