Tentang Hukum Penggunaan Gelar Haji

9:12 AM
Hukum menyematkan gelar haji bagi orang yang sudah berhaji, boleh kah? atau termasuk kedalam riya' kah? Di Indonesia, bahkan mungkin hanya ada di Indonesia, orang yang sudah pernah melaksanakan ibadah haji akan mendapatkan gelar haji/hajjah di depan namanya. Bolehkah penyematan gelar ini dan bagaimanakah hukumnya?

Haji adalah rukun Islam yang ke-5, dan termasuk salah satu ritual ibadah dalam Islam yang untuk melaksanakannya dibutuhkan beberapa persyaratan khusus, yaitu mampu baik secara materi, maupun fisik

Syarat diterimanya amalan di sisi Allah ialah bahwa amalan tersebut sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW dan dilaksanakan dengan rasa ikhlas dengan semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT, tidak mengharap pujian maupun sanjungan dari orang lain.

Dalam pelaksanaan ibadah haji kita dituntut untuk bersabar, ikhlas, dan meninggalkan segala atribut dan kemewahan duniawi seperti perhiasan maupun pakaian, dan hanya mengenakan pakaian Ihram yang sederhana. Dengan demikian tidak ada satu pun pembeda maupun sekat antara jama'ah haji yang satu dengan jama'ah haji yang lain, tidak ada sekat perbedaan status sosial, kekayaan, maupun suku bangsa.

Kembali ke masalah gelar haji, gelar haji yang lazim diberikan kepada orang yang sudah selesai melaksanakan ibadah haji ini dikhawatirkan dapat merusak nilai-nilai yang ada dan diajarkan dalam ritual haji tersebut, misalnya dengan penyematan gelar haji maka akan terjadi pengkotak-kotakan kelas sosial, apalagi jika orang tersebut kemudian merasa kecewa jika tidak dipanggil menggunakan gelar tersebut, kemudian orang tersebut merasa dirinya memiliki level yang lebih tinggi dibanding orang lain yang belum berhaji, baik merasa lebih tinggi dari segi materiil maupun tingkat keimanan dan keislaman, dalam kasus ini gelar tersebut dapat dinilai haram karena sudah mengandung unsur riya'.

Ibadah Haji tidak lebih utama dari shalat, puasa, dan zakat...

Meskipun Ibadah haji termasuk ibadah yang mulia, namun tidak lebih utama bila dibandingkan dengan shalat, puasa, dan zakat. Jika demikian kenapa tidak ada gelar shalat, puasa, atau zakat? misal kita menyebut 'haji fulan', kenapa tidak ada yang menyebut 'shalat fulan'? padahal shalat lebih utama bila dibandingkan dengan haji.

Kemudian jika gelar haji ini baik, sudah tentu Rasulullah SAW akan menggelari dirinya dengan gelar tersebut, atau menggelari sahabat-sahabatnya dengan gelar tersebut, sedangkan kenyataannya kita tidak menyebut Rasulullah dengan sebutan 'Haji Muhammad', atau menyebut khalifah dengan sebutan Haji Abi Bakr Ash Shidiq, Haji Umar Bin Khatab, Haji Utsman Bin Affan, atau Haji Ali Bin Abi Thalib, padahal mereka diantara orang yang paling shaleh, taat, dan ikhlas amalannya.

Fakta lain ialah bahwa saat ini motivasi pelaksanaan Ibadah haji ini bisa bermacam-macam, mulai dari benar-benar Ikhlas memenuhi panggilan Allah SWT, sampai dengan niat untuk semata-mata menaikkan gengsi demi mendapat gelar Haji di depan namanya.

Semua kembali kepada diri masing-masing, Ibadah haji dapat dengan mudah dilakukan bagi mereka yang memiliki kelebihan materi, bahkan dapat dikerjakan berulang-ulang tiap tahunnya, namun mengenai mabrur atau tidaknya ibadah Haji tersebut bukan dilihat dari gelar 'haji' yang didapat, melainkan bagaimana ia dapat menerapkan nilai-nilai Islam sesuai teladan Rasulullah SAW dan dari pelajaran yang didapat dalam pelaksanaan Ibadah haji untuk hidupnya.

Jangan sampai kita berada di golongan orang yang akan cenderung merasa kecewa dan tidak suka jika tidak dipanggil dengan panggilan 'haji' padahal kita sudah mengeluarkan banyak uang untuk melaksanakan Ibadah tersebut.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 Komentar:

Write Komentar
June 14, 2017 at 9:41 PM delete

Syukur dpt tambahan ilmu utk bahan kajian kaitan penulisan haji pd nama salam damai

Reply
avatar

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon