Kemana Generasi Kita?

3:33 PM
Ramadhan, bulan suci yang penuh berkah, selalu dinanti nanti oleh anak- anak, dewasa maupun orang tua, namun di tahun ini ada yang sedikit berbeda bagi pengajian kita. Bukan karena tempat tarawih yang telah dipindah dekat dengan masjid, tapi Ramadhan yang seharusnya digunakan oleh anak-anak untuk menambah wawasan tentang agama, & ahklak mulia di tempat pengajian yang ada malah berganti layaknya pasar dan juga tempat bermain yang ramainya bukan main. Anak berlari kesana kemari, loncat loncat, bermain sesuka hati, belum nanti ada yang terjatuh lalu menangis, miris sebetulnya melihat semua itu. Sebuah pertanyaan lewat di kepala saya, salah siapa itu semua, ataukah memang anak-anak yang masih labil itu sulit diatur ataukah ini salah kakak kakak pengasuh yang mengawasi anak anak ini?


Sedikit berkaca pada tahun tahun sebelumnya ketika saya pribadi masih belum menjadi pengasuh di pengajian ini. Saat itu tak seperti tahun ini, bukan karena saya membanggakan diri karena pada saat itu memang lebih tertib daripada tahun ini. Anak anak tertib sholat, & mengikuti berbagai acara maupun lomba yang diadakan kakak kakak pengasuh. Ini semua tak lepas dari kekompakan kakak kakak pengasuh yang mengasuh saya pada waktu itu, dan tak lupa saya ucapkan beribu terima kasih pada kakak kakak pengasuh pada waktu itu.

Tapi realita yang saya lihat tahun ini ketika saya telah menjadi pengasuh adalah lunturnya kekompakan kakak kakak pengasuh yang dulunya memang sangat berapi-api. Kemana kita yang dulu, kemana semangat kita yang pernah berkobar dulu, kemana kekompakan kita yang pernah bercahaya dulu, apa semuanya telah padam? Karena yang saya rasakan sekarang sangat berbeda dengan dulu, kakak kakak pengasuh yang dulunya mengawasi kami telah menaruh tanggung jawab sepenuhnya kepada generasi kita. Karena dalam sebuah pengajian ataupun organisasi regenerasi sangat dibutuhkan supaya jalan untuk masa depan akan kita lalui dengan mudah. Tapi yang ada apa? Kakak kakak pengasuh yang hadir sekaligus mengawasi anak anak saat sholat maupun melakukan kegiatan keagamaan hanya itu itu saja, hanya sekitar 3 sampai 5 orang saja, lalu kemana lainnya yang seharusnya mulai saat ini sudah memegang tanggung jawab akan masa depan pengajian ini. Tanggung jawab adalah milik kita bersama, bukan hanya milik segelintir orang saja.

Saya sadar Allah memang menciptakan manusia itu sebagai makhluk sosialis dan individualis, dimana setiap pribadi juga mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing. Kita punya hak untuk melakukan kegiatan maupun acara pribadi di luar pengajian ini, karena itulah hak kita sebagai makhluk individualis. Namun di sisi lain kita adalah makhluk sosialis yang mempunyai kewajiban, kewajiban apa? Kewajiban untuk menjaga keutuhan, kekompakan, kebersamaan, bahkan masa depan pengajian kita ini. Apakah kita menginginkan suatu saat nanti pengajian kita ini tinggal nama, tinggal kenangan saja karena regenerasi yang seharusnya menjadi jalan untuk meneruskan amanah serta perjuangan kita malah menjadi batu sandungan untuk pengajian kita ini. Tak perlu menyalahkan orang lain, saya sendiripun masih banyak kekurangan dalam hal ini, masih perlu banyak evaluasi bagi pribadi saya sendiri.

Ini bukan sebuah kritik ataupun ancaman yang nantinya berbuah permusuhan bagi kita semua, tapi marilah kita tingkatkan kesadaran pada pribadi kita masing- masing, apakah masih menginginkan pengajian ini tetap ada dan tetap berjaya bukan hanya saat kita memenangkan sebuah lomba takbir keliling, namun juga kemengan yang sejati, yaitu saat kita bisa mendidik anak-anak, dan adik-adik kita menjadi pribadi yang berakhlak mulia, cerdas dalam segala hal, dan juga dapat menjadi teladan yang baik nantinya. Itulah yang sangat perlu kita menangkan saat ini.

Oleh karena itu mulai sekarang kita harus menyiapkan rencana yang paling tepat untuk masa depan pengajian kita. Ibarat lilin, kita adalah sebuah api yang tengah meredup, namun tak akan pernah mati. Mari kita nyalakan api yang hampir padam ini, supaya nantinya kita bisa menjadi penerang bagi orang-orang di sekeliling kita.
Di sini saya tidak merasa sok paling benar & tidak sok menasihati anda, tapi saya hanya merindukan pengajian kita yang dulu, di mana kekompakan serta rasa kekeluargaan selalu tertanam pada hati kita masing-masing, di mana rasa saling menjaga keutuhan selalu tertancap dalam hati kita. Saya selalu menginginkan anda sekalian ada untuk pengajian ini dan untuk masa depan pengajian kita ini. Pengajian milik kita, kita juga yang menghidupinya. Kita tak punya seribu tahun untuk meninggalkan pengajian ini, tapi kita selalu punya satu detik untuk menghidupkan pengajian ini. 

Penulis : Rinaldi  Perdana Putra (Kader KMP)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 Komentar

Write Komentar

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon