Jangan Hanya Tengok Kanan - Kiri

2:44 PM
Tim sepeda KMP kali ini memiliki target penjelajahan mengunjungi kompleks Rumah Dome. Seperti biasa tidak satupun dari peserta petualangan kali ini yang tau secara persis lokasi komplek perumahan yang dibangun sebagai bantuan untuk korban gempa jogja tersebut, alhasil perjalanan kali ini berbekal petunjuk dan informasi yang didapat dari internet.

Tim berangkat agak siang, kira-kira jam sudah menunjukkan di atas jam 06.30 pagi, sudah lumayan terang. Mengambil rute ke timur seperti biasa, menyeberangi Ring Road, terus ke arah timur dari pasar Ngipik Bantul, dan seterusnya sampai ke Jalan Wonosari, dari sini KMP mengambil rute masuk ke sebelah utara Jalan Wonosari, keluar masuk kampung dan sempat muter-muter sok tau dengan mencari rute baru yang belum pernah kami telusuri sebelumnya.


Beberapa kali menemui jalan buntu, sekian kali melintasi trek aspal rusak, masuk ke komplek peternakan sapi milik warga, bahkan melintasi jalan yang pada akhirnya buntu sehingga kami beristirahat sebentar sambil menonton bebek balapan renang, dan seterusnya hingga kami tiba di jalur sebelah utara Candi Abang, dari sini kami meneruskan perjalanan ke arah timur menuju jalan besar Jalan Piyungan - Prambanan.

Beberapa menit kemudian kami sudah tiba di perempatan kecil di antara Jalan Piyungan-Prambanan. Menurut petunjuk dari internet, arah menuju komplek Perumahan Dome ini berada di sebelah timur jalan, katanya sih ada papan penunjuk jalannya.

Petunjuk dari internet tersebut berbunyi bahwa papan penunjuk arah berada di perempatan yang berjarak 6 Km dari pertigaan pasar Piyungan di sebelah selatan, ada lagi yang menyebutkan bahwa papan petunjuk terletak di perempatan KM 8. Masalahnya dari mana angka 8 itu diukur? utara atau selatan?

Sempat bingung beberapa saat, apalagi melihat di sebelah timur jalan ternyata tidak ada papan petunjuk komplek perumahan yang dimaksud, kami memutuskan mengambil arah ke utara sambil mengamati tulisan 'Km' di pinggir jalan.

Berjalan kurang lebih 2 Km, kami tiba di sebuah perempatan yang agak besar, entah pasar apa namanya saya lupa, kami masuk ke arah timur (ke kanan dari perempatan). Terus berjalan sejauh kurang lebih 2 Km masih tidak ada tanda-tanda petunjuk ke komplek perumahan yang juga sering di sebut rumah Teletubbies karena bentuknya itu.

Kecurigaan bahwa rute yang diambil adalah salah mulai terasa. Karena kami pantang untuk balik arah kecuali terpaksa, maka perjalanan tetap di lanjutkan, setelah menempuh beberapa kilometer lagi, kami memutuskan untuk berhenti di sebuah warung untuk membeli minuman sambil bertanya pada warga setempat.

Terima kasih pada warga yang sudah membantu kami memberi petunjuk, perjalanan kami lanjutkan mengikuti arahan warga tersebut. Singkat cerita, kami sudah tiba di sebuah sekolahan seperti yang diceritakan oleh warga, menurut warga komplek perumahan tersebut berada di sebelah timur sekolahan, ah, tapi tidak terlihat, kami malah menemui pertigaan, dengan pede dan sok taunya kami mengambil arah kanan (selatan) di pertigaan tersebut.

Rute tersebut mempertemukan kami dengan tanjakan yang lumayan terjal, dengan teriakan keluhan yang penuh semangat kami mencoba menanjaki tanjakan tersebut, namun belum seberapa sepeda salah seorang anggota tim mengalami gangguan teknis, rodanya copot, gangguan teknis yang konyol memang, saya pikir rodanya mau kabur karena takut tanjakan, hehe

Beberapa anggota tim membantu memperbaiki sepeda, beberapa lainnya istirahat, dan ada juga yang berusaha mengamati daerah yang sedang kita sambangi ini, siapa tau dari bukit ini rumah dome terlihat, dan benar saja ternyata komplek rumah dome terletak di bawah bukit, belum sampai tanjakan, kenyataan ini mengamini bahwa kita salah jalan lagi untuk yang kesekian kalinya, hehehe

Setelah sepeda beres, perjalanan dilanjutkan dengan berbalik arah menuju jalan yang benar. Tak berapa lama kami tiba di Komplek Perumahan Dome yang secara spesifik terletak di Dusun Nglepen, Prambanan, Sleman. Saat itu memang waktu sudah lumayan siang, sudah terasa panas dan cukup silau mata ini.

Berputar-putar sebentar di komplek tersebut, lalu kami beristirahat di dekat gapura pintu masuk sambil melihat peta lokasi perumahan, dari sana kami tau bahwa di sekitar komplek rumah dome juga terdapat beberapa obyek yang sepertinya menarik. Ah tapi kami memutuskan untuk istirahat saja dulu setelah melakukan perjalanan dan sejumlah kekonyolan tadi.

Di setiap perjalanan kami selalu menyempatkan untuk foto bersama, sebagai bukti dan kenang-kenangan bahwa kami sudah pernah menjelajahi tempat tersebut.

Tapi sayangnya kekonyolan belum berhenti di sini, ketika kami sudah siap bergaya, kamera DSLR Canon 500D juga sudah di keluarkan, muncul satu masalah, kamera menolak untuk hidup, setelah di utak-atik baru si pemilik sadar jika kameranya sudah lama tidak dicas, bravoooo!!!!wangun tenan, haha

Perjalanan paling aneh yang pernah kami alami dari sekian kali petualangan ini, hehe. Jadilah sesi pemotretan dilakukan dengan mengandalkan kamera dari hape blackberry salah satu anggota tim, dan hasilnya adalaaahh :
Setelah puas sedikit berfoto ria, kami kembali melanjutkan perjalanan, kali ini niatnya mengunjungi salah satu obyek yang ditunjukkan dalam peta. Perjalanan ditemani oleh merdu suara perut keroncongan yang bersahut-sahutan seperti kelompok paduan suara 17 Agustus di Istana Negara.

Perjalanan menempuh rute bukit yang ternyata kami salah jalan lagi, waduh. Setelah melalui perdebatan yang cukup sengit akhirnya kami putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan dan langsung kembali mencari sarapan.

Kami mencoba melalui rute yang berbeda dengan rute berangkat, dengan harapan dapat tiba di Jalan Piyungan - Prambanan lebih cepat. Dari komplek Perumahan Dome kami mengambil rute lurus ke barat.

Setelah sekian menit perjalanan kami sudah tiba di sebuah perempatan, kami tiba di Jalan Piyungan - Prambanan, dan benar saja, kami berada di perempatan di mana kami tadi bingung dan malah mengambil jalan ke utara.

Menyadari kebodohan ini kami tidak bisa menahan tawa yang meledak seketika, apalagi ditambah salah satu dari kami melihat papan petunjuk yang ternyata bukannya tidak ada, tapi ada di sebelah barat jalan, tepatnya di atas tempat kami tadi bingung dan berhenti.

Sambil tertawa dan tidak henti-hentinya mereka menyalahkan saya, hehe, kami meneruskan perjalanan ke barat (bukan mencari kitab suci, tapi untuk pulang).

Akhirnya seperti biasa perjalanan diakhiri dengan happy ending, kami berlabuh di Warung Bakso Baskom Jalan Wonosari sebelum perjalanan pulang dilanjutkan setelah makan.

Pelajaran dari perjalanan kali ini adalah, bersepeda tidak hanya harus tengok kanan dan kiri, tapi juga sesekali melihat ke atas, siapa tau petunjuk yang kita cari ada di atas kepala kita dan luput dari pengamatan!! Dan satu lagi, kamera jangan lupa dicas sebelum beraksi!

(ditulis oleh : Adn Darmawan)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

3 Komentar

Write Komentar
June 28, 2011 at 4:47 PM delete

hahaha,,,, gayeng pokokmen,,, iso dinggo crito anak putu

Reply
avatar
Anonymous
June 28, 2011 at 4:51 PM delete

acara bersepeda yang seru,
kalau disaya istilahnya bersepeda mencari jejak :)

Reply
avatar
June 28, 2011 at 5:11 PM delete

hahaha,,, nama yang unik... kalo di sini,,,
KOMARIYAH RIANG GEMBIRA

Reply
avatar

Tinggalkan komentar ya, supaya kami bisa terus meningkatkan kualitas tulisan dan informasi di blog ini. EmoticonEmoticon